Translate

Wednesday, 31 December 2014

Hidup, Tuhan, dan Hati yang Kosong

(Midorikawa's POV)

"Kau membenci hidupmu?"

Sore itu, aku berjalan- jalan di taman setelah jam kerja selesai. Dengan Hiroto. Ketika itu matahari mulai tenggelam, kami duduk di bangku taman seraya mengobrol.

"Kenapa?"
"Kenapa ya...." jawabku, " rasanya... Hidupku itu..."

Aku memandang kearah sungai di depan, arusnya membawa daun- daun yang berguguran melewati bawah jembatan. Angin hari itu cukup dingin.

"Hidupku itu...."

Ia masih menatapku, menunggu lanjutan dari kalimat- kalimat yang kulontarkan. Aku juga tidak tahu apa kata yang cocok untuk mengisi kalimat itu.

"Hidupku itu.... Sulit."

Sulit? Sebenarnya itu juga bukan kata yang cocok.

"Sulit?"

Matahari telah terbenam, lampu- lampu taman telah dinyalakan, memerangi bangku yang kududuki ketika itu.

"Aku... rasanya... Benar- benar membenci hidupku."

(Hiroto's POV)

"Midorikawa."

Ia tetap memandang sungai, tetapi matanya tampak kosong. Seperti itukah Midorikawa Ryuuji?

"Hidup itu.... memang sulit."

Hidup memang sulit. Apa ada orang yang hidup tanpa cobaan di dunia ini? Mustahil.

"Meski susah dijalani, tapi kau harus tetap maju kan?"

Kali ini ia menoleh. "Satu lagi kata- kata puitis dari mu. Meski kau berkata kalau aku harus tetap maju, apa Tuhan akan memberikan jalan yang terbaik untukku?"
Ia berdiri lalu menengadah, menghadap langit yang berawan ketika itu. "Apa Tuhan.... Benar- benar melihatku?"

Kemudian ia pergi meninggalkanku di taman. Kata-kata terakhirnya... Apa itu benar-benar Midorikawa?

(Normal POV)

"Hei, Midorikawa."
Midorikawa menoleh dan melihat sosok berambut merah itu sedang tersenyum, melihat ke arahnya.

"Apa menurutmu, Tuhan tidak melihatmu?"

Wajahnya sedikit kaget dengan pertanyaan Hiroto.
"Kenapa?"

"Kau berkata seperti itu, kan, kemarin? Katamu, 'Apa Tuhan benar- benar melihatku', itu yang kau katakan. Apa kau benar- benar yakin begitu?"

"Ya... tidak juga. Tapi rasanya..."

Sehari Setelahnya

"Kau masih bisa bergerak sampai sekarang, tapi tidak yakin kalau Tuhan mengabaikanmu? Kau pikir untuk apa kau diciptakan? Hanya untuk mengisi dunia ini? Jangan membuatku tertawa. Kau punya tujuan hidup, Midorikawa. Kau punya itu."

Midorikawa menatap kosong Hiroto sambil meminum teh yang dipesannya.

"Hei." Tatapan Hiroto yang berubah menjadi tajam membuat Midorikawa tersadar dari lamunannya. "Kau mendengarkanku kan?"

"Mungkin.... Kau benar."

Jawaban Midorikawa justru membuat Hiroto bingung. "Hei, hei. Kenapa kau mengubah pikiran cepat sekali? Tidak seperti yang biasanya."

"Hiroto... Aku ini... Sudah banyak berubah. Jangan menganggapku sama seperti yang dulu."

Hiroto tersenyum dan berkata, "sama sepertimu, aku juga berubah. Semua orang berubah, Midorikawa."

Midorikawa tersenyum tipis. "Kau tahu apa yang harus kau katakan. Selalu begitu."

"Mungkin salah satu ujian dari Tuhan ini.... Hatiku yang kosong ya?"

Setelah mengatakan itu, Midorikawa tampak dingin dan lebih banyak diam.

"Ohayou." Hiroto memasuki ruangan kantornya.
"Ohayou." Matanya masih terus tertuju pada dokumen yang dibacanya.
Setelah duduk di kursi, Hiroto membuka laptopnya. "Masih kosong?"

"Bukan urusanmu."
"Tidak, itu urusanku juga."
"Urusai."
"Kenapa kau jadi dingin begini, sih?"
Midorikawa hanya diam dan tak menjawab.
Hiroto yang kesal dengan sikap Midorikawa yang dingin berdiri, menghampirinya, menarik Midorikawa dari tempat duduknya, lalu memeluknya.

"Apa yang kau..."
"Apa aku... Belum bisa mengisi hatimu?"

Midorikawa sungguh terkejut atas apa yang Hiroto katakan dan lakukan. Matanya berkaca- kaca.
"Apa aku belum bisa mengisi hatimu!?"
Pelukannya makin erat.

"Siapa yang bisa... mengisi hatiku?"

"Kau pikir siapa yang memelukmu sekarang? Aku yang akan mengisi hatimu! Kenapa kau menjadi seperti ini!? Kau bukan Midorikawa yang kukenal!"

"Hiroto..." air matanya jatuh.

Setidaknya sekarang ia tahu, ada orang yang bisa mengisi lubang di hatinya.

_________________________________________

WAHAAHAHAHA! Pendek banget kan!? (Miharu-hime menggila :v) Akhir akhir ini yang Miharu-hime tulis pendek pendek ya? (Ketauan banget ga punya idenya)

No comments:

Post a Comment