Hari itu
: Hujan
Aku termangu menatap langit dari kaca jendela. Suara hujan ini melebihi suara dari headphone-ku. Kadang petir menyambar- nyambar terlihat diantara gelapnya langit. Aku mengetuk- ngetukkan jari diatas meja, mengikuti irama. Tapi... Rasanya lagu ini begitu kosong, kalau tak kudengarkan bersamamu. Kapan kau akan kembali?
Seandainya kau tahu bagaimana aku disini hanya menunggu dan berharap. Aku ingin bermain bersamamu dan yang lainnya lagi. Sekeras apapun aku berusaha, aku tidak akan dikirim kesana. Tapi, ya... Aku akan terus menunggu.
Oh, iya. Tentu kau bertanya- tanya dengan siapa aku berlatih selama kau pergi. Aku berlatih bersama kakakmu dan anggota Aliea lainnya.
Ya sudah. Jaga dirimu baik- baik. Aku tidak mau kau kembali dengan luka. Maaf aku tidak pernah mengabarimu.
Ryuuji
Aku tidak mau mengiriminya surat. Yang tadi itu... Aku hanya berbicara dalam hati. Terlalu canggung rasanya untuk mengiriminya surat. Tapi, yah... Memang tidak mungkin mengirim anggota tim peringkat 2 Aliea menuju pertandingan internasional. Maa, siapa yang peduli?
Hari itu
: Cerah
Aku duduk di bangku sambil menatap awan- awan hari itu. Terkadang, aku melihat yang lainnya berlatih. Rasanya, pertandingan tanpamu itu sepi. Aku tidak melihat bayanganmu sama sekali. Kosong. Kapan kau menyusul?
Kau tahu, aku berlatih disini tanpamu, hampa. Kurasa hanya kamu yang cocok menjadi teman berlatihku. Seandainya kau disini... Aku terus menunggumu.
Sedang apa kau disana? Aku ingin tahu. Apa saja yang kau lakukan? Kita terpisah jauh, kan? Kabari aku sesekali.
Kalau begitu... Sudah, ya. Jangan terlalu memaksakan diri. Aku tidak mau ketika aku kembali kau sakit. Maaf aku tidak pernah mengirimu surat.
Hiroto
Aku tidak mengiriminya surat. Aku hanya terus menunggu surat darinya. Yang barusan itu.... Hanya catatanku. Kenapa dia tidak dimasukkan tim internasional? Menurutku dia sudah berusaha sekuatnya. Tapi... Yah, semua sudah terjadi.
(Midorikawa's POV)
Menatap langit biru ketika itu, aku berbaring di pematang sungai. Langit ketika itu cerah, awan awan jarang terlihat. Kadang terbayang dia ada disini.
"Midorikawa?"
"Ulvida?"
"Sori, aku tidak memakai nama itu lagi. Panggil aku Reina."
Ia duduk disampingku.
"Kurasa.... kau juga merindukannya kan?"
"Rindu? Kata katamu berlebihan. Ya, memang aku sangat ingin bertemu dengannya. Tapi... Tak ada kata kata lain selain rindu?"
"Entahlah. Tapi 'sangat ingin bertemu' itu rindu, lho. Aku juga mau bertemu dengannya. Sayangnya tidak kesampaian."
Seharusnya... Seandainya Reina tergabung Inazuma Japan, dia mungkin akan diikutkan sampai internasional.
"Dengar, Midorikawa." Katanya. "Kau beruntung masih sempat bertemu, berlatih, dan bertanding bersamanya. Aku? Bagaimana perasaanmu kalau jadi diriku?"
Aku tersentak. Apa yang dikatakan Reina benar juga.
"Ya sudah. Aku pergi dulu. Jaa ne."
"Tunggu! Reina!"
Ia menoleh. "Ada apa?"
"Menurutmu.... Apa yang Hiroto rasakan sekarang?"
Reina memandang langit seraya berpikir. "Mungkin...."
"Dia juga... merindukanmu?"
(Hiroto's POV)
"Hiroto?" Suara ini sangat kukenal. "Kau ada di dalam kan?"
Aku tetap termenung memandang keluar jendela. "Ya. Masuk."
Fubuki memasuki kamarku lalu duduk diatas kasur. "Kau merindukan seseorang?"
Aku menatapnya, dan dia tersenyum. "Bagaimana kau tahu?"
"Tentu. Midorikawa- kun juga pasti merindukanmu."
Ya... Midorikawa. Seandainya ia disini.
"Aku juga ingin bertemu dengannya. Padahal seandainya dia disini... Aku mau kita membuat Hissatsu baru bertiga."
Hissatsu baru? Aku juga mengharapkan itu.
"Kau tahu apa yang ia katakan ketika cederaku masih belum sembuh?"
"'Kau tahu... Aku mengkhawatirkannya lebih dari apapun... Seandainya... Seandainya aku bisa pergi...' katanya. Hiroto, dia benar- benar mengkhawatirkanmu. Aku tahu, dia memang ingin bermain di tingkat internasional. Tapi mungkin.... keinginannya yang sebenarnya adalah.... Terus bersamamu."
Kalimatnya yang terakhir membuatku mengalihkan pandangan dari jendela.
"Maksudmu?" Sebenarnya aku sudah mengerti apa yang dia maksudkan. Tapi... Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan.
"Ya... Dia ingin kau terus bersamanya. Dan menurutku juga dia mungkin... Menyukaimu."
Yang terakhir itu membuatku membelalakkan mata.
"Kau juga menyukainya kan?" Yang ini lebih membuat mataku membulat.
"Yah, Hiroto. Aku mengerti. Aku rasa... perasaan itu harus tetap kau simpan kan? Hiroto-kun, aku pikir kita harus membuat Hissatsu baru? Meski tanpa Midorikawa, tapi perasaanya tetap ada di dalamnya kan?"
Aku menatap wajahnya. Dia sangat mengerti perasaanku tentang Midorikawa. Ya... ku rasa dia benar.
"Baiklah. Kita mulai latihan sekarang?"
:: After FFI ::
"Aku pu...."
"Hiroto!"
Ia memelukku, erat sekali. Samar, aku mendengar ia menangis. Aku tersenyum, dan memeluknya.
"Aku kembali."
-------------------------------------------------------------
Entah kenapa, Miharu-hime nge-ship banget sama KiyaMido. Habisnya, mereka bareng terus sih. Miharu-hime aja ga nyangka kalo besarnya Ryuuji jadi sekretaris nya Hiroto-nii. Ah udahan dulu ya? Ada request? Kalo ada tulis di kolom komentar atau kirim ke alieagran@gmail.com
No comments:
Post a Comment