(Midorikawa's POV)
"Kau membenci hidupmu?"
Sore itu, aku berjalan- jalan di taman setelah jam kerja selesai. Dengan Hiroto. Ketika itu matahari mulai tenggelam, kami duduk di bangku taman seraya mengobrol.
"Kenapa?"
"Kenapa ya...." jawabku, " rasanya... Hidupku itu..."
Aku memandang kearah sungai di depan, arusnya membawa daun- daun yang berguguran melewati bawah jembatan. Angin hari itu cukup dingin.
"Hidupku itu...."
Ia masih menatapku, menunggu lanjutan dari kalimat- kalimat yang kulontarkan. Aku juga tidak tahu apa kata yang cocok untuk mengisi kalimat itu.
"Hidupku itu.... Sulit."
Sulit? Sebenarnya itu juga bukan kata yang cocok.
"Sulit?"
Matahari telah terbenam, lampu- lampu taman telah dinyalakan, memerangi bangku yang kududuki ketika itu.
"Aku... rasanya... Benar- benar membenci hidupku."
(Hiroto's POV)
"Midorikawa."
Ia tetap memandang sungai, tetapi matanya tampak kosong. Seperti itukah Midorikawa Ryuuji?
"Hidup itu.... memang sulit."
Hidup memang sulit. Apa ada orang yang hidup tanpa cobaan di dunia ini? Mustahil.
"Meski susah dijalani, tapi kau harus tetap maju kan?"
Kali ini ia menoleh. "Satu lagi kata- kata puitis dari mu. Meski kau berkata kalau aku harus tetap maju, apa Tuhan akan memberikan jalan yang terbaik untukku?"
Ia berdiri lalu menengadah, menghadap langit yang berawan ketika itu. "Apa Tuhan.... Benar- benar melihatku?"
Kemudian ia pergi meninggalkanku di taman. Kata-kata terakhirnya... Apa itu benar-benar Midorikawa?
(Normal POV)
"Hei, Midorikawa."
Midorikawa menoleh dan melihat sosok berambut merah itu sedang tersenyum, melihat ke arahnya.
"Apa menurutmu, Tuhan tidak melihatmu?"
Wajahnya sedikit kaget dengan pertanyaan Hiroto.
"Kenapa?"
"Kau berkata seperti itu, kan, kemarin? Katamu, 'Apa Tuhan benar- benar melihatku', itu yang kau katakan. Apa kau benar- benar yakin begitu?"
"Ya... tidak juga. Tapi rasanya..."
Sehari Setelahnya
"Kau masih bisa bergerak sampai sekarang, tapi tidak yakin kalau Tuhan mengabaikanmu? Kau pikir untuk apa kau diciptakan? Hanya untuk mengisi dunia ini? Jangan membuatku tertawa. Kau punya tujuan hidup, Midorikawa. Kau punya itu."
Midorikawa menatap kosong Hiroto sambil meminum teh yang dipesannya.
"Hei." Tatapan Hiroto yang berubah menjadi tajam membuat Midorikawa tersadar dari lamunannya. "Kau mendengarkanku kan?"
"Mungkin.... Kau benar."
Jawaban Midorikawa justru membuat Hiroto bingung. "Hei, hei. Kenapa kau mengubah pikiran cepat sekali? Tidak seperti yang biasanya."
"Hiroto... Aku ini... Sudah banyak berubah. Jangan menganggapku sama seperti yang dulu."
Hiroto tersenyum dan berkata, "sama sepertimu, aku juga berubah. Semua orang berubah, Midorikawa."
Midorikawa tersenyum tipis. "Kau tahu apa yang harus kau katakan. Selalu begitu."
"Mungkin salah satu ujian dari Tuhan ini.... Hatiku yang kosong ya?"
Setelah mengatakan itu, Midorikawa tampak dingin dan lebih banyak diam.
"Ohayou." Hiroto memasuki ruangan kantornya.
"Ohayou." Matanya masih terus tertuju pada dokumen yang dibacanya.
Setelah duduk di kursi, Hiroto membuka laptopnya. "Masih kosong?"
"Bukan urusanmu."
"Tidak, itu urusanku juga."
"Urusai."
"Kenapa kau jadi dingin begini, sih?"
Midorikawa hanya diam dan tak menjawab.
Hiroto yang kesal dengan sikap Midorikawa yang dingin berdiri, menghampirinya, menarik Midorikawa dari tempat duduknya, lalu memeluknya.
"Apa yang kau..."
"Apa aku... Belum bisa mengisi hatimu?"
Midorikawa sungguh terkejut atas apa yang Hiroto katakan dan lakukan. Matanya berkaca- kaca.
"Apa aku belum bisa mengisi hatimu!?"
Pelukannya makin erat.
"Siapa yang bisa... mengisi hatiku?"
"Kau pikir siapa yang memelukmu sekarang? Aku yang akan mengisi hatimu! Kenapa kau menjadi seperti ini!? Kau bukan Midorikawa yang kukenal!"
"Hiroto..." air matanya jatuh.
Setidaknya sekarang ia tahu, ada orang yang bisa mengisi lubang di hatinya.
_________________________________________
WAHAAHAHAHA! Pendek banget kan!? (Miharu-hime menggila :v) Akhir akhir ini yang Miharu-hime tulis pendek pendek ya? (Ketauan banget ga punya idenya)
Translate
Wednesday, 31 December 2014
Tuesday, 30 December 2014
Rindu?
Hari itu
: Hujan
Aku termangu menatap langit dari kaca jendela. Suara hujan ini melebihi suara dari headphone-ku. Kadang petir menyambar- nyambar terlihat diantara gelapnya langit. Aku mengetuk- ngetukkan jari diatas meja, mengikuti irama. Tapi... Rasanya lagu ini begitu kosong, kalau tak kudengarkan bersamamu. Kapan kau akan kembali?
Seandainya kau tahu bagaimana aku disini hanya menunggu dan berharap. Aku ingin bermain bersamamu dan yang lainnya lagi. Sekeras apapun aku berusaha, aku tidak akan dikirim kesana. Tapi, ya... Aku akan terus menunggu.
Oh, iya. Tentu kau bertanya- tanya dengan siapa aku berlatih selama kau pergi. Aku berlatih bersama kakakmu dan anggota Aliea lainnya.
Ya sudah. Jaga dirimu baik- baik. Aku tidak mau kau kembali dengan luka. Maaf aku tidak pernah mengabarimu.
Ryuuji
Aku tidak mau mengiriminya surat. Yang tadi itu... Aku hanya berbicara dalam hati. Terlalu canggung rasanya untuk mengiriminya surat. Tapi, yah... Memang tidak mungkin mengirim anggota tim peringkat 2 Aliea menuju pertandingan internasional. Maa, siapa yang peduli?
Hari itu
: Cerah
Aku duduk di bangku sambil menatap awan- awan hari itu. Terkadang, aku melihat yang lainnya berlatih. Rasanya, pertandingan tanpamu itu sepi. Aku tidak melihat bayanganmu sama sekali. Kosong. Kapan kau menyusul?
Kau tahu, aku berlatih disini tanpamu, hampa. Kurasa hanya kamu yang cocok menjadi teman berlatihku. Seandainya kau disini... Aku terus menunggumu.
Sedang apa kau disana? Aku ingin tahu. Apa saja yang kau lakukan? Kita terpisah jauh, kan? Kabari aku sesekali.
Kalau begitu... Sudah, ya. Jangan terlalu memaksakan diri. Aku tidak mau ketika aku kembali kau sakit. Maaf aku tidak pernah mengirimu surat.
Hiroto
Aku tidak mengiriminya surat. Aku hanya terus menunggu surat darinya. Yang barusan itu.... Hanya catatanku. Kenapa dia tidak dimasukkan tim internasional? Menurutku dia sudah berusaha sekuatnya. Tapi... Yah, semua sudah terjadi.
(Midorikawa's POV)
Menatap langit biru ketika itu, aku berbaring di pematang sungai. Langit ketika itu cerah, awan awan jarang terlihat. Kadang terbayang dia ada disini.
"Midorikawa?"
"Ulvida?"
"Sori, aku tidak memakai nama itu lagi. Panggil aku Reina."
Ia duduk disampingku.
"Kurasa.... kau juga merindukannya kan?"
"Rindu? Kata katamu berlebihan. Ya, memang aku sangat ingin bertemu dengannya. Tapi... Tak ada kata kata lain selain rindu?"
"Entahlah. Tapi 'sangat ingin bertemu' itu rindu, lho. Aku juga mau bertemu dengannya. Sayangnya tidak kesampaian."
Seharusnya... Seandainya Reina tergabung Inazuma Japan, dia mungkin akan diikutkan sampai internasional.
"Dengar, Midorikawa." Katanya. "Kau beruntung masih sempat bertemu, berlatih, dan bertanding bersamanya. Aku? Bagaimana perasaanmu kalau jadi diriku?"
Aku tersentak. Apa yang dikatakan Reina benar juga.
"Ya sudah. Aku pergi dulu. Jaa ne."
"Tunggu! Reina!"
Ia menoleh. "Ada apa?"
"Menurutmu.... Apa yang Hiroto rasakan sekarang?"
Reina memandang langit seraya berpikir. "Mungkin...."
"Dia juga... merindukanmu?"
(Hiroto's POV)
"Hiroto?" Suara ini sangat kukenal. "Kau ada di dalam kan?"
Aku tetap termenung memandang keluar jendela. "Ya. Masuk."
Fubuki memasuki kamarku lalu duduk diatas kasur. "Kau merindukan seseorang?"
Aku menatapnya, dan dia tersenyum. "Bagaimana kau tahu?"
"Tentu. Midorikawa- kun juga pasti merindukanmu."
Ya... Midorikawa. Seandainya ia disini.
"Aku juga ingin bertemu dengannya. Padahal seandainya dia disini... Aku mau kita membuat Hissatsu baru bertiga."
Hissatsu baru? Aku juga mengharapkan itu.
"Kau tahu apa yang ia katakan ketika cederaku masih belum sembuh?"
"'Kau tahu... Aku mengkhawatirkannya lebih dari apapun... Seandainya... Seandainya aku bisa pergi...' katanya. Hiroto, dia benar- benar mengkhawatirkanmu. Aku tahu, dia memang ingin bermain di tingkat internasional. Tapi mungkin.... keinginannya yang sebenarnya adalah.... Terus bersamamu."
Kalimatnya yang terakhir membuatku mengalihkan pandangan dari jendela.
"Maksudmu?" Sebenarnya aku sudah mengerti apa yang dia maksudkan. Tapi... Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan.
"Ya... Dia ingin kau terus bersamanya. Dan menurutku juga dia mungkin... Menyukaimu."
Yang terakhir itu membuatku membelalakkan mata.
"Kau juga menyukainya kan?" Yang ini lebih membuat mataku membulat.
"Yah, Hiroto. Aku mengerti. Aku rasa... perasaan itu harus tetap kau simpan kan? Hiroto-kun, aku pikir kita harus membuat Hissatsu baru? Meski tanpa Midorikawa, tapi perasaanya tetap ada di dalamnya kan?"
Aku menatap wajahnya. Dia sangat mengerti perasaanku tentang Midorikawa. Ya... ku rasa dia benar.
"Baiklah. Kita mulai latihan sekarang?"
:: After FFI ::
"Aku pu...."
"Hiroto!"
Ia memelukku, erat sekali. Samar, aku mendengar ia menangis. Aku tersenyum, dan memeluknya.
"Aku kembali."
-------------------------------------------------------------
Entah kenapa, Miharu-hime nge-ship banget sama KiyaMido. Habisnya, mereka bareng terus sih. Miharu-hime aja ga nyangka kalo besarnya Ryuuji jadi sekretaris nya Hiroto-nii. Ah udahan dulu ya? Ada request? Kalo ada tulis di kolom komentar atau kirim ke alieagran@gmail.com
: Hujan
Aku termangu menatap langit dari kaca jendela. Suara hujan ini melebihi suara dari headphone-ku. Kadang petir menyambar- nyambar terlihat diantara gelapnya langit. Aku mengetuk- ngetukkan jari diatas meja, mengikuti irama. Tapi... Rasanya lagu ini begitu kosong, kalau tak kudengarkan bersamamu. Kapan kau akan kembali?
Seandainya kau tahu bagaimana aku disini hanya menunggu dan berharap. Aku ingin bermain bersamamu dan yang lainnya lagi. Sekeras apapun aku berusaha, aku tidak akan dikirim kesana. Tapi, ya... Aku akan terus menunggu.
Oh, iya. Tentu kau bertanya- tanya dengan siapa aku berlatih selama kau pergi. Aku berlatih bersama kakakmu dan anggota Aliea lainnya.
Ya sudah. Jaga dirimu baik- baik. Aku tidak mau kau kembali dengan luka. Maaf aku tidak pernah mengabarimu.
Ryuuji
Aku tidak mau mengiriminya surat. Yang tadi itu... Aku hanya berbicara dalam hati. Terlalu canggung rasanya untuk mengiriminya surat. Tapi, yah... Memang tidak mungkin mengirim anggota tim peringkat 2 Aliea menuju pertandingan internasional. Maa, siapa yang peduli?
Hari itu
: Cerah
Aku duduk di bangku sambil menatap awan- awan hari itu. Terkadang, aku melihat yang lainnya berlatih. Rasanya, pertandingan tanpamu itu sepi. Aku tidak melihat bayanganmu sama sekali. Kosong. Kapan kau menyusul?
Kau tahu, aku berlatih disini tanpamu, hampa. Kurasa hanya kamu yang cocok menjadi teman berlatihku. Seandainya kau disini... Aku terus menunggumu.
Sedang apa kau disana? Aku ingin tahu. Apa saja yang kau lakukan? Kita terpisah jauh, kan? Kabari aku sesekali.
Kalau begitu... Sudah, ya. Jangan terlalu memaksakan diri. Aku tidak mau ketika aku kembali kau sakit. Maaf aku tidak pernah mengirimu surat.
Hiroto
Aku tidak mengiriminya surat. Aku hanya terus menunggu surat darinya. Yang barusan itu.... Hanya catatanku. Kenapa dia tidak dimasukkan tim internasional? Menurutku dia sudah berusaha sekuatnya. Tapi... Yah, semua sudah terjadi.
(Midorikawa's POV)
Menatap langit biru ketika itu, aku berbaring di pematang sungai. Langit ketika itu cerah, awan awan jarang terlihat. Kadang terbayang dia ada disini.
"Midorikawa?"
"Ulvida?"
"Sori, aku tidak memakai nama itu lagi. Panggil aku Reina."
Ia duduk disampingku.
"Kurasa.... kau juga merindukannya kan?"
"Rindu? Kata katamu berlebihan. Ya, memang aku sangat ingin bertemu dengannya. Tapi... Tak ada kata kata lain selain rindu?"
"Entahlah. Tapi 'sangat ingin bertemu' itu rindu, lho. Aku juga mau bertemu dengannya. Sayangnya tidak kesampaian."
Seharusnya... Seandainya Reina tergabung Inazuma Japan, dia mungkin akan diikutkan sampai internasional.
"Dengar, Midorikawa." Katanya. "Kau beruntung masih sempat bertemu, berlatih, dan bertanding bersamanya. Aku? Bagaimana perasaanmu kalau jadi diriku?"
Aku tersentak. Apa yang dikatakan Reina benar juga.
"Ya sudah. Aku pergi dulu. Jaa ne."
"Tunggu! Reina!"
Ia menoleh. "Ada apa?"
"Menurutmu.... Apa yang Hiroto rasakan sekarang?"
Reina memandang langit seraya berpikir. "Mungkin...."
"Dia juga... merindukanmu?"
(Hiroto's POV)
"Hiroto?" Suara ini sangat kukenal. "Kau ada di dalam kan?"
Aku tetap termenung memandang keluar jendela. "Ya. Masuk."
Fubuki memasuki kamarku lalu duduk diatas kasur. "Kau merindukan seseorang?"
Aku menatapnya, dan dia tersenyum. "Bagaimana kau tahu?"
"Tentu. Midorikawa- kun juga pasti merindukanmu."
Ya... Midorikawa. Seandainya ia disini.
"Aku juga ingin bertemu dengannya. Padahal seandainya dia disini... Aku mau kita membuat Hissatsu baru bertiga."
Hissatsu baru? Aku juga mengharapkan itu.
"Kau tahu apa yang ia katakan ketika cederaku masih belum sembuh?"
"'Kau tahu... Aku mengkhawatirkannya lebih dari apapun... Seandainya... Seandainya aku bisa pergi...' katanya. Hiroto, dia benar- benar mengkhawatirkanmu. Aku tahu, dia memang ingin bermain di tingkat internasional. Tapi mungkin.... keinginannya yang sebenarnya adalah.... Terus bersamamu."
Kalimatnya yang terakhir membuatku mengalihkan pandangan dari jendela.
"Maksudmu?" Sebenarnya aku sudah mengerti apa yang dia maksudkan. Tapi... Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan.
"Ya... Dia ingin kau terus bersamanya. Dan menurutku juga dia mungkin... Menyukaimu."
Yang terakhir itu membuatku membelalakkan mata.
"Kau juga menyukainya kan?" Yang ini lebih membuat mataku membulat.
"Yah, Hiroto. Aku mengerti. Aku rasa... perasaan itu harus tetap kau simpan kan? Hiroto-kun, aku pikir kita harus membuat Hissatsu baru? Meski tanpa Midorikawa, tapi perasaanya tetap ada di dalamnya kan?"
Aku menatap wajahnya. Dia sangat mengerti perasaanku tentang Midorikawa. Ya... ku rasa dia benar.
"Baiklah. Kita mulai latihan sekarang?"
:: After FFI ::
"Aku pu...."
"Hiroto!"
Ia memelukku, erat sekali. Samar, aku mendengar ia menangis. Aku tersenyum, dan memeluknya.
"Aku kembali."
-------------------------------------------------------------
Entah kenapa, Miharu-hime nge-ship banget sama KiyaMido. Habisnya, mereka bareng terus sih. Miharu-hime aja ga nyangka kalo besarnya Ryuuji jadi sekretaris nya Hiroto-nii. Ah udahan dulu ya? Ada request? Kalo ada tulis di kolom komentar atau kirim ke alieagran@gmail.com
Thursday, 25 December 2014
Smile
.
.
.
.
.
Hari ini terlihat biasa saja bagi Reina. Ya... seperti biasanya. Ia menghabiskan waktu istirahatnya di kantin. Entah ada apa di kantin, tetapi setiap hari tujuan pertamanya ketika istirahat adalah kantin.
Sambil melihat kearah lapangan, ia memakan rotinya perlahan. Pemandangan seperti biasa, suasana seperti biasa, rasanya seperti biasa, dan mungkin kehidupan yang biasa. Raut mukanya pun seperti biasa. Datar tanpa ekspresi sama sekali.
Dia melihat murid murid bermain sepakbola di lapangan. Diantara semua murid yang berada di lapangan, hanya satu orang yang menarik perhatian Reina. Ia sekalipun tak tampak sedih, murung, marah, atau lainnya. Ia hanya tersenyum. Kebahagiaan tampak terpancar dari wajahnya. Matanya yang hijau tampak berkilau. Wajahnya yang putih bersih terlihat bahagia. Senyuman selalu terlihat di wajahnya. Dan Reina, memandanginya dengan ekspresi datar meski jantungnya berdegup kencang. Dia merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan.
Di sisi lain, anak yang dilihat Reina, bernama Hiroto. Sesuai yang digambarkan Reina, Hiroto memang terlihat senang. Dia sangat menikmati sepakbola. Dari lapangan, ia sadar bahwa ada sepasang mata yang melihatnya dari kantin. Dan dia menemukannya. Beberapa saat ia saling bertatapan dengan Reina.
Reina melihat Hiroto dengan datarnya, sedang Hiroto melihat Reina dengan senyumnya. Merasa tidak enak, Reina mengalihkan perhatiannya.
Dan dari saat itu, cerita ini berawal.
(Reina's POV)
Hidupnya berbeda dariku. Siapa dia? Bagaimana bisa dia melakukan semua hal dengan senyum? Itu hal mustahil bagiku. Sangat mustahil.
Tunggu.... Dia barusan lewat di sebelahku. Dan... Aku mendengar sesuatu. "Senyum?"
Aku menengok kebelakang. Dia tersenyum padaku.
"Tunggu!"
Aku mengejarnya. Jarang sekali aku seperti ini.
"Ada apa?"
Aku terdiam. Aku tak tahu harus berkata apa. Rasanya tadi mulutku bergerak sendiri.
"Kamu... yang tadi kan?"
Ia mengangguk. "Ya."
Setelah itu, kuketahui kalau namanya Hiroto. Pertanyaan terakhirnya masih terus ku ingat. "Kemana hilangnya senyumanmu?"
Aku sendiri tidak menjawab pertanyaannya. Aku tidak tahu jawabannya. Seandainya pertanyaan itu ada pilihannya, mungkin itu sudah kujawab. Aku bahkan tidak tahu sejak kapan ekspresiku jadi datar begini. Senyum telah menghilang dari hidupku.
(Hiroto's POV)
Datar sekali. Benar benar tanpa ekspresi. Hidup tanpa senyum?
Seandainya ada sedikit saja senyum di wajahnya... Mungkin aku harus membantunya menemukan kembali senyumnya yang hilang.
(Normal POV)
Hari itu, Reina sedang duduk di perpustakaan setelah mengambil beberapa buku. Ia memilih sebuah kursi di dekat jendela. Terkadang ia melihat keluar jendela, melihat hujan yang turun dengan derasnya. Suasana perpustakaan yang sedikit remang ditambah hujan deras membuat Reina melihat ke sekitarnya. Tampangnya yang datar membuat orang orang tidak mengira bahwa Reina ini cukup penakut. Saat itu perpustakaan sepi karena sebenarnya ini sudah jam pelajaran, tetapi Reina pergi dari kelas dengan izin sakit.
Ketika ia menoleh, seseorang berdiri di balik rak buku yang membuat Reina merinding. "Siapa?"
"Siapa yang kau tanya?"
Suara itu Reina kenal.
"Kenapa kau disini?"
"Penting buatmu?"
"....."
Dan orang itu menampakkan wujudnya.
"Hiroto."
Hiroto tersenyum dan mengambil sebuah buku. Ia duduk disebelah Reina.
"Kau juga kabur?"
"Menurutmu?"
"?"
"Itu tidak penting. Kamu suka membaca?"
Reina mengangguk. "Ya... Kamu juga?"
"Tidak juga. Tapi... Aku suka membaca ketika senggang. Jadi?"
"Apa?"
"Kau sudah menemukan jawabannya?"
Reina menutup buku yang dia baca kemudian menengok kearah jendela. "Entahlah..."
Hujan mulai reda beberapa menit kemudian.
"Reina...."
"Ya?"
"Kamu pernah... kehilangan... bukan?"
Reina tersentak. Hiroto mengatakan itu sedang matanya masih terarah ke buku yang dibacanya.
"Ti-tidak..."
"Jangan bohong. Aku bisa melihat itu dari matamu."
Reina diam sejenak. "Ya.... Benar. Bagaimana kau bisa tahu?"
Hiroto mengalihkan pandangannya dari buku dan menatap Reina.
"Aku juga pernah kehilangan, sepertimu. Aku tahu, kamu kehilangan orang tuamu."
"Ya... Kau benar."
"Dulu orang tuaku meninggal ketika aku masih kecil. Kematian orang tuaku membuatku sangat terpuruk. Dan sepertimu, aku pernah tidak memiliki ekspresi."
"Lalu?"
"Aku memiliki seorang kakak angkat. Dia yang mengasuhku sejak orang tuaku meninggal. Dia selalu menanggapiku dengan sabar meski aku selalu mengabaikan dirinya. Dan setelah bertahun- tahun, apa yang terjadi? Senyumanku kembali. Kau tahu kenapa?"
Reina masih menatap Hiroto dengan wajah datarnya. "Kenapa?"
"Cinta."
Reina menatap Hiroto bingung. "Apa maksudmu?"
"Cinta memberi kita kehangatan. Dan kehangatan itu... akan membuatmu mencairkan dinginnya dirimu, dan mengembalikan senyummu. Kau tahu? Karena cinta kakak padaku, aku bisa selalu tersenyum sekarang."
Reina terdiam. Kata- kata Hiroto tadi membuatnya berpikir.
"Cinta?"
Hiroto mengangguk. "Kau hanya membutuhkan cinta, Reina."
"Tapi....dimana aku bisa mendapatkannya? Siapa orang yang bisa memberikanku cinta? Dimana aku harus menemukan orang itu?"
Hiroto tersenyum. "Kau tidak perlu mencarinya, Reina. Orang itu akan datang kepadamu. Dan orang itu telah menemukanmu."
"Eh?"
"Aku telah menemukanmu, Reina. Aku menemukanmu. Aku siap memberikanmu cinta yang tulus, yang bisa membuatmu menemukan senyumanmu. Mungkin akan membutuhkan waktu lama untuk menemukannya. Tapi kamu sudah memiliki aku. Aku bisa membantumu menemukan senyumanmu."
"Hiroto...."
"Aku mau melihatmu tersenyum. Aku yakin semua orang juga mau melihatmu tersenyum. Kau siap untuk tersenyum?"
"Entahlah.... Ya..."
"Reina."
"Iya?"
"Kau sudah tersenyum."
Raut wajah Reina berubah. Senyum bahagia terlihat di wajahnya.
8 bulan kemudian.
"Kau tahu? Kau lebih cantik ketika tersenyum," kata Hiroto.
Semburat merah tampak di pipi Reina.
"Kau memuji."
"Tidak, aku sungguhan. Kau yang dulu dan sekarang benar benar berbeda. Cinta benar benar membuatmu menemukan senyummu."
Reina tersenyum. Matanya yang biru tampak berkilau memantulkan sinar bulan malam itu.
==================================
Pendek banget ya? Kadang Author juga bertanya- tanya kemana hilangnya Reina di InaIre GO. Padahal Author berharap dia muncul di InaGO sebagai pasangan Hiroto-nii lho :v sayangnya enggak terwujud :v ya udah deh, komentar nya ya minna...
.
.
.
.
Hari ini terlihat biasa saja bagi Reina. Ya... seperti biasanya. Ia menghabiskan waktu istirahatnya di kantin. Entah ada apa di kantin, tetapi setiap hari tujuan pertamanya ketika istirahat adalah kantin.
Sambil melihat kearah lapangan, ia memakan rotinya perlahan. Pemandangan seperti biasa, suasana seperti biasa, rasanya seperti biasa, dan mungkin kehidupan yang biasa. Raut mukanya pun seperti biasa. Datar tanpa ekspresi sama sekali.
Dia melihat murid murid bermain sepakbola di lapangan. Diantara semua murid yang berada di lapangan, hanya satu orang yang menarik perhatian Reina. Ia sekalipun tak tampak sedih, murung, marah, atau lainnya. Ia hanya tersenyum. Kebahagiaan tampak terpancar dari wajahnya. Matanya yang hijau tampak berkilau. Wajahnya yang putih bersih terlihat bahagia. Senyuman selalu terlihat di wajahnya. Dan Reina, memandanginya dengan ekspresi datar meski jantungnya berdegup kencang. Dia merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan.
Di sisi lain, anak yang dilihat Reina, bernama Hiroto. Sesuai yang digambarkan Reina, Hiroto memang terlihat senang. Dia sangat menikmati sepakbola. Dari lapangan, ia sadar bahwa ada sepasang mata yang melihatnya dari kantin. Dan dia menemukannya. Beberapa saat ia saling bertatapan dengan Reina.
Reina melihat Hiroto dengan datarnya, sedang Hiroto melihat Reina dengan senyumnya. Merasa tidak enak, Reina mengalihkan perhatiannya.
Dan dari saat itu, cerita ini berawal.
(Reina's POV)
Hidupnya berbeda dariku. Siapa dia? Bagaimana bisa dia melakukan semua hal dengan senyum? Itu hal mustahil bagiku. Sangat mustahil.
Tunggu.... Dia barusan lewat di sebelahku. Dan... Aku mendengar sesuatu. "Senyum?"
Aku menengok kebelakang. Dia tersenyum padaku.
"Tunggu!"
Aku mengejarnya. Jarang sekali aku seperti ini.
"Ada apa?"
Aku terdiam. Aku tak tahu harus berkata apa. Rasanya tadi mulutku bergerak sendiri.
"Kamu... yang tadi kan?"
Ia mengangguk. "Ya."
Setelah itu, kuketahui kalau namanya Hiroto. Pertanyaan terakhirnya masih terus ku ingat. "Kemana hilangnya senyumanmu?"
Aku sendiri tidak menjawab pertanyaannya. Aku tidak tahu jawabannya. Seandainya pertanyaan itu ada pilihannya, mungkin itu sudah kujawab. Aku bahkan tidak tahu sejak kapan ekspresiku jadi datar begini. Senyum telah menghilang dari hidupku.
(Hiroto's POV)
Datar sekali. Benar benar tanpa ekspresi. Hidup tanpa senyum?
Seandainya ada sedikit saja senyum di wajahnya... Mungkin aku harus membantunya menemukan kembali senyumnya yang hilang.
(Normal POV)
Hari itu, Reina sedang duduk di perpustakaan setelah mengambil beberapa buku. Ia memilih sebuah kursi di dekat jendela. Terkadang ia melihat keluar jendela, melihat hujan yang turun dengan derasnya. Suasana perpustakaan yang sedikit remang ditambah hujan deras membuat Reina melihat ke sekitarnya. Tampangnya yang datar membuat orang orang tidak mengira bahwa Reina ini cukup penakut. Saat itu perpustakaan sepi karena sebenarnya ini sudah jam pelajaran, tetapi Reina pergi dari kelas dengan izin sakit.
Ketika ia menoleh, seseorang berdiri di balik rak buku yang membuat Reina merinding. "Siapa?"
"Siapa yang kau tanya?"
Suara itu Reina kenal.
"Kenapa kau disini?"
"Penting buatmu?"
"....."
Dan orang itu menampakkan wujudnya.
"Hiroto."
Hiroto tersenyum dan mengambil sebuah buku. Ia duduk disebelah Reina.
"Kau juga kabur?"
"Menurutmu?"
"?"
"Itu tidak penting. Kamu suka membaca?"
Reina mengangguk. "Ya... Kamu juga?"
"Tidak juga. Tapi... Aku suka membaca ketika senggang. Jadi?"
"Apa?"
"Kau sudah menemukan jawabannya?"
Reina menutup buku yang dia baca kemudian menengok kearah jendela. "Entahlah..."
Hujan mulai reda beberapa menit kemudian.
"Reina...."
"Ya?"
"Kamu pernah... kehilangan... bukan?"
Reina tersentak. Hiroto mengatakan itu sedang matanya masih terarah ke buku yang dibacanya.
"Ti-tidak..."
"Jangan bohong. Aku bisa melihat itu dari matamu."
Reina diam sejenak. "Ya.... Benar. Bagaimana kau bisa tahu?"
Hiroto mengalihkan pandangannya dari buku dan menatap Reina.
"Aku juga pernah kehilangan, sepertimu. Aku tahu, kamu kehilangan orang tuamu."
"Ya... Kau benar."
"Dulu orang tuaku meninggal ketika aku masih kecil. Kematian orang tuaku membuatku sangat terpuruk. Dan sepertimu, aku pernah tidak memiliki ekspresi."
"Lalu?"
"Aku memiliki seorang kakak angkat. Dia yang mengasuhku sejak orang tuaku meninggal. Dia selalu menanggapiku dengan sabar meski aku selalu mengabaikan dirinya. Dan setelah bertahun- tahun, apa yang terjadi? Senyumanku kembali. Kau tahu kenapa?"
Reina masih menatap Hiroto dengan wajah datarnya. "Kenapa?"
"Cinta."
Reina menatap Hiroto bingung. "Apa maksudmu?"
"Cinta memberi kita kehangatan. Dan kehangatan itu... akan membuatmu mencairkan dinginnya dirimu, dan mengembalikan senyummu. Kau tahu? Karena cinta kakak padaku, aku bisa selalu tersenyum sekarang."
Reina terdiam. Kata- kata Hiroto tadi membuatnya berpikir.
"Cinta?"
Hiroto mengangguk. "Kau hanya membutuhkan cinta, Reina."
"Tapi....dimana aku bisa mendapatkannya? Siapa orang yang bisa memberikanku cinta? Dimana aku harus menemukan orang itu?"
Hiroto tersenyum. "Kau tidak perlu mencarinya, Reina. Orang itu akan datang kepadamu. Dan orang itu telah menemukanmu."
"Eh?"
"Aku telah menemukanmu, Reina. Aku menemukanmu. Aku siap memberikanmu cinta yang tulus, yang bisa membuatmu menemukan senyumanmu. Mungkin akan membutuhkan waktu lama untuk menemukannya. Tapi kamu sudah memiliki aku. Aku bisa membantumu menemukan senyumanmu."
"Hiroto...."
"Aku mau melihatmu tersenyum. Aku yakin semua orang juga mau melihatmu tersenyum. Kau siap untuk tersenyum?"
"Entahlah.... Ya..."
"Reina."
"Iya?"
"Kau sudah tersenyum."
Raut wajah Reina berubah. Senyum bahagia terlihat di wajahnya.
8 bulan kemudian.
"Kau tahu? Kau lebih cantik ketika tersenyum," kata Hiroto.
Semburat merah tampak di pipi Reina.
"Kau memuji."
"Tidak, aku sungguhan. Kau yang dulu dan sekarang benar benar berbeda. Cinta benar benar membuatmu menemukan senyummu."
Reina tersenyum. Matanya yang biru tampak berkilau memantulkan sinar bulan malam itu.
==================================
Pendek banget ya? Kadang Author juga bertanya- tanya kemana hilangnya Reina di InaIre GO. Padahal Author berharap dia muncul di InaGO sebagai pasangan Hiroto-nii lho :v sayangnya enggak terwujud :v ya udah deh, komentar nya ya minna...
Wednesday, 24 December 2014
Drama ala InaIre GO
Author: Miharu
ATI-ATI!
GAJE, OOC, GILA, DAN SEMACAMNYA! TERTULAR HUBUNGI DOKTER.
-------------------------------------------------------------
Pagi itu, Tenma datang ke sekolah dan memasuki gedung klub.
"Oh! Tenma!"
Taunya, di dalem lagi ada rame rame.
"Kenapa nih?"
"Tenma! Masing masing klub suruh bikin drama!" Kata Shinsuke.
"Haaah???"
"Kita buat drama apa?" Tanya Shindou.
.
.
.
Setelah berunding satu abad lamanya, mereka memutuskan untuk memakai drama Romeo & Juliet :v :v :v
"Oke. Kirino-senpai jadi Juliet nya, Tsurugi jadi Romeo nya, Shindou-senpai jadi raja Capulets nya, Kurama-senpai jadi Mercutio, Nishiki-senpai jadi Tybalt, Kariya jadi Valiant Paris, Guru nya Shinsuke, terus Hamano- senpai sama Hayami-senpai jadi tukang gali kubur, Ichino-senpai jadi bapaknya Romeo, Aoyama-senpai jadi pelayan, Amagi-senpai jadi satpam, Kurumada-senpai jadi tukang bersih bersih, Hikaru jadi pak kusir. Oke?"
"Lah, terus Tenma jadi apa?" Tanya Kariya.
"Ya kan gue produser nya...."
"WOY! NAPA GUE JADI JULIET!?"
"Penampilan lo kan kayak cewe..." kata Shindou.
"TAPI BUKAN BERARTI GUE JUGA KALE!!!"
"Udah lah, terima keadaan...." kata Shindou lagi.
"TERUS NAPA GUE JADI ROMEO NYA!?"
"Kan elu cocok jadi Romeo?" Kata Nishiki.
"TAPI ENGGAK GUE BISA KAN!?"
"Udah lah.... sabar aja..."
"MASALAHNYA JULIETNYA COWO JUGA!! TENMA! LU GOVLOK ATO APA SIH!?"
"Gimana lagi? Pemain cewe kan ga ada?" Kata Tenma.
"TERUS LO SEENAKNYA MAKE GUE JADI CEWE!?"
"Iya."
"AS*!!!!!"
"Btw, kenapa gue jadi tukang gali kubur?" Tanya Hamano.
"Ga papa, yang penting dapet peran."
"Emangnya ada peran tukang bersih bersih ya? Baru denger gue," kata Kurumada.
"Ya ga papa, lagian bagian tukang bersih bersih ga ada percakapan sama sekali kok, cuma buat ngisi latar belakang yang kosong."
"ANJIR."
"Jadi? Kita mulai latihan sekarang, oke?"
.
-------------------------------------------------------------
PART 1 END
(Dibalik layar)
Kirino: AUTHOR! LO JADIIN GUE JULIET!?
Author: bukan gue, tapi Tenma.
All: Yang bikin cerita kan elu!!
Tenma: pake bawa bawa nama gue lagi
Tsurugi: NAPA GUE JADI ROMEO!?
Author: jelas kan? Karena lu kece.
Tsurugi: AS*!!!!!!
Hikaru: kusir ngapain ya? Bagiannya dikit kan?
All: Kusir itu tugasnya motong rumput! :pasang muka You dont say:
Hikaru: oh...
Author: tenang aja, bagian lu dikit kok.
Kariya: BAGIAN GUE NORAK BANGET! KETERLALUAN LU THOR!
Author: suka suka gue.
All: TENMA TUH PALING ENAK!
Author: udah udah... mendingan sekarang kita ucapin kalimat perpisahan....
All: SAMPE JUMPA DI PART BERIKUTNYA!!!(penuh emosi)
Setelah itu, Author ditendang dengan berbagai Hissatsu, Keshin, Keshin Armor, Mixi-Max, bahkan Soul.
ATI-ATI!
GAJE, OOC, GILA, DAN SEMACAMNYA! TERTULAR HUBUNGI DOKTER.
-------------------------------------------------------------
Pagi itu, Tenma datang ke sekolah dan memasuki gedung klub.
"Oh! Tenma!"
Taunya, di dalem lagi ada rame rame.
"Kenapa nih?"
"Tenma! Masing masing klub suruh bikin drama!" Kata Shinsuke.
"Haaah???"
"Kita buat drama apa?" Tanya Shindou.
.
.
.
Setelah berunding satu abad lamanya, mereka memutuskan untuk memakai drama Romeo & Juliet :v :v :v
"Oke. Kirino-senpai jadi Juliet nya, Tsurugi jadi Romeo nya, Shindou-senpai jadi raja Capulets nya, Kurama-senpai jadi Mercutio, Nishiki-senpai jadi Tybalt, Kariya jadi Valiant Paris, Guru nya Shinsuke, terus Hamano- senpai sama Hayami-senpai jadi tukang gali kubur, Ichino-senpai jadi bapaknya Romeo, Aoyama-senpai jadi pelayan, Amagi-senpai jadi satpam, Kurumada-senpai jadi tukang bersih bersih, Hikaru jadi pak kusir. Oke?"
"Lah, terus Tenma jadi apa?" Tanya Kariya.
"Ya kan gue produser nya...."
"WOY! NAPA GUE JADI JULIET!?"
"Penampilan lo kan kayak cewe..." kata Shindou.
"TAPI BUKAN BERARTI GUE JUGA KALE!!!"
"Udah lah, terima keadaan...." kata Shindou lagi.
"TERUS NAPA GUE JADI ROMEO NYA!?"
"Kan elu cocok jadi Romeo?" Kata Nishiki.
"TAPI ENGGAK GUE BISA KAN!?"
"Udah lah.... sabar aja..."
"MASALAHNYA JULIETNYA COWO JUGA!! TENMA! LU GOVLOK ATO APA SIH!?"
"Gimana lagi? Pemain cewe kan ga ada?" Kata Tenma.
"TERUS LO SEENAKNYA MAKE GUE JADI CEWE!?"
"Iya."
"AS*!!!!!"
"Btw, kenapa gue jadi tukang gali kubur?" Tanya Hamano.
"Ga papa, yang penting dapet peran."
"Emangnya ada peran tukang bersih bersih ya? Baru denger gue," kata Kurumada.
"Ya ga papa, lagian bagian tukang bersih bersih ga ada percakapan sama sekali kok, cuma buat ngisi latar belakang yang kosong."
"ANJIR."
"Jadi? Kita mulai latihan sekarang, oke?"
.
-------------------------------------------------------------
PART 1 END
(Dibalik layar)
Kirino: AUTHOR! LO JADIIN GUE JULIET!?
Author: bukan gue, tapi Tenma.
All: Yang bikin cerita kan elu!!
Tenma: pake bawa bawa nama gue lagi
Tsurugi: NAPA GUE JADI ROMEO!?
Author: jelas kan? Karena lu kece.
Tsurugi: AS*!!!!!!
Hikaru: kusir ngapain ya? Bagiannya dikit kan?
All: Kusir itu tugasnya motong rumput! :pasang muka You dont say:
Hikaru: oh...
Author: tenang aja, bagian lu dikit kok.
Kariya: BAGIAN GUE NORAK BANGET! KETERLALUAN LU THOR!
Author: suka suka gue.
All: TENMA TUH PALING ENAK!
Author: udah udah... mendingan sekarang kita ucapin kalimat perpisahan....
All: SAMPE JUMPA DI PART BERIKUTNYA!!!(penuh emosi)
Setelah itu, Author ditendang dengan berbagai Hissatsu, Keshin, Keshin Armor, Mixi-Max, bahkan Soul.
Sunday, 21 December 2014
Season 3, What Happened!!?
InaIre//S3
Genre: udah kocak, gaje lage.
Author: Miharu
Part 1
Cerita ini berawal ketika... ketika... pagi menjelang :v seorang GK alias Goal Keeper bernama Encok, eh sori, maksudnya Endou masih tertidur diatas kasurnya.
"MASAKO!! Eh, salah, MAMORU!! MAU TIDUR SAMPE KAPAN KAU NAK!? SAMPE KIAMAT!?" Teriak ibunya Endou.
"Halah mak... ini kan masih malem..." Endou malah guling guling gaje di kasur.
"UDAH JAM LIMA NAK!! Kamu enggak sholat subuh!!?"
"O iya mak! Sori aku lupa!" Endou segera bangun dari tidurnya dan mengambil air wudhu.
Eh, tunggu. Sejak kapan Endou rajin sholat? Author juga kagak tau.
Habis mandi, Endou langsung memakan sarapannya dan berpamitan pada kedua orang tuanya.
"Mak, pak, minta doa restunya..."
"Halah, alay kamu ini. Belom belom dah minta restu. Pacar aja kagak punya! Nikah juga masih 10 taun lagi. Elu kan jomblo," kata bapaknya Endou.
"Iya iya pak! Aku berangkat!" Endou mengenakkan jaketnya dan berangkat menuju sekolah.
Di tengah jalan, dia merasa kalau ada seorang anak yang mengikutinya.
"WOY! LO SAPA SIH!? DARI TADI NGUNTIT GUE!" Endou.
"Sori, mas! Lagian mas mau ke sekolah kan? Aku juga mau ke Raimon mas!" Kata si anak SD tadi.
"Ealah...."
"Berarti mas Endou juga ada panggilan dari pakde Hibiki ya?"
"Pakde? Sejak kapan mbah Hibiki jadi pakde? Yang ada mbah kali."
"Ya udah, deh, Mbah Hibiki."
"Oke. Namamu siapa?"
"Utsunomiya Toramaru."
"Aku Endou Mamoru."
"Iya aku udah tai, eh, sori, maksudnya tau! Nama mas kan udah terkenal!"
"Oh, iya lah. Yo dah, kita barengan aja ke Raimon."
Akhirnya, Endou jalan bareng Toramaru ke Raimon.
Sesampainya di Raimon, ada rame rame.
"Antri sembako?" Tanya Endou.
"Enggak lah! Makin govlok aja lu. Jelas kita disini dipanggil pakde Hibiki!" Kata Kazemaru.
"Ah, elu juga ternyata manggil mbah Hibiki pake pakde."
"Oi! Endou!"
Ini dia Ace Striker Raimon, Gouenji Shuuya!
"Wa! Gouenji! Gue kangen banget sama looo!!" Teriak Endou.
"Eh, sapa lo? Asal kangen aja," kata Gouenji.
"Oi!! Endou!!"
Suara cowo yang satu ini rada rada gimana.. gitu.
"Oh! Tsunami!"
Tiba tiba gelombang besar datang menerpa disertai gempa dengan kekuatan 5,6 SR!
"Ada kogure! Trus... Fubuki!"
Ya, Pangeran Salju telah datang, vroh! Ketampanan masih menghiasi wajahnya! GAK kalah dari Gouenji deh!
"Ya, Kapten."
"Dan kamu..."
Eh, siapa ya namanya? Hem... lupa. Yang mukanya jelek, bibir tebal, rambut gaje, pake kacamata itu loh! Yang dari, Kidokawa Seishuu!
"Oh, kamu! Preambul Net!"
"TRIANGLE Z GOVLOK! INI ANAK MAKIN HARI MAKIN GOVLOK AJA!"
"AH, ELU MAKIN HARI JUGA MAKIN ANCUR AJA!"
Dan pertengkaran gaje antara Endou dan -namatakdiketahui- berlanjut sampe taun depan.
Setelah ketemuan sama kawan kawan plus kenalan ma Tobitaka si cowo gangster yang bolak balik nyisir rambut atau poni ga jelas lah. Terus ketemuan ma kembaran yang ga ada bedanya ma kembarannya (mbulet), alias megane kazuto«ni orang pake nama Kirito ya?».
Kemudian, bertemu dengan saudara
Aburame Shino :v alias Kidou Yuuto dan sahabat sematinya(YANG ADA JUGA SAHABAT SEJATI KALEE) alias Sakuma Jirou.
Dan..
"Endou, ada orang tak terduga yang juga datang," kata Gouenji.
Dan, para readers diharap menggelar karpet merah, menyingkir dari jalan dan... sambutlah! Seorang cowo kece nan cool(bedanya apa?) Dengan rambut merahnya! Masuk top 3 cowo paling keren sedunia InaIre!
KIYAMA HIROTO!!!
"Ya, Endou-kun."
Author sampe ga mampu ngelanjutin ni fanfic... keburu teler :v :v
"Oi!! Author pingsan!!!" Teriak Tsunami.
"Biarin aja, gue ambil alih komputer nya," kata Shadow yang menurut Author kembarannya Kai di Tales Runner.
*KEPEMIMPINAN SHADOW AMBIL ALIH#
Ya, Shadow sendiri juga lupa apa yang Hiroto bilang ke Endou waktu itu.
"Ada satu orang lagi dari Aliea Gakuen."
Seorang cewe, eh salah, maksudnya cowo :v datang dengan aura ungu kehitaman(paan tuh).
"Aura paan nih?" Kata shadow.
"Biasa kale... Aura lo juga kek gini kok," kata Someoka.
"Iya emang sih."
"...." shadow mikir.
"BACOT AJA LU! DIEM KEK!"
"ELU JUGA BACOT AJA! GUE MAU NGENALIN DIRI, ELU PADA RIBUT! GA SESUAI TEKS NIH!" Teriak ntu anak.
"Saturnus, eh, salah, bumi mempunyai peribahasa, eh, peribahasa apa pepatah, ya? Ya itu lah pokoknya. Air beriak tanda ada ikan!"
"NGASALNYA KETERLALUAN BANGEET!!!"
"Lagipula yang bener kan Air beriak tanda ada kecebong!" Seru Kogure
"Elu juga sama aja," kata Fubuki. Astaga, martabatnya hilang hanya karena kata 'Elu' :v
"Reize!" Kata Someoka.
"Kapten Gembong Storm!" Seru fubuki.
"EH, MATA LU GEMBONG STORM! GEMINI STORM GOVLOK!" Teriak Midorikawa.
"Oh, jadi elu yang nge hancurin sekolah gue!?" Teriak
-takdiketahuinamanya-
"Iya emang kan? Tuh elu udah tau sendiri," kata Midorikawa.
"YA TERUS ELU GA GANTI RUGI!!"
"Salah lu sendiri napa ga bikin benteng?"
"Iya sih. SERAH LU DAH!"
"He He."
Pertemuan gaje berakhir ketika Mbah Hibiki dateng bareng Natsumi and para manager.
"Mbah Hibiki!" Seru Endou.
"Sejak kapan gue jadi kakek LU? Ogah. Jadi, kalian dikumpulkan disini untuk diseleksi menjadi anggota..."
"Boyband," potong Kazemaru.
"Tolol!" Teriak Aki. "Buat jadi perwakilan jepang ngerti!"
Dan, waktu mereka ngomong ngomong soal Inazuma Japan, seseorang(ciyes) menendang bola menuju arah gerombolan. Kidou yang PEKA :v berbalik dan, sebenernya sih niatnya mau nendang balik tuh bola, tapi malah kena kacamata nya :v untung Haruna selalu jaga jaga bawa 10 kacamata :v
"Fudou!"
Salah satu cowo berandalan :v muncul disini. Ya kalo ga percaya liat aja gaya rambutnya :v
Ya... abaikan. Lagipula ketemuan ma Fudou ga penting kok :v :v (Shadow Ditabok Fudou)
Dan, mereka dibagi menjadi dua tim!
Suasana makin ricuh :v karena Hiroto sama Midorikawa dipisah timnya :v Kidou and Sakuma tengkar sama Fudou, ya... makin ricuh lah pokoknya.
Dan? Apa yang terjadi selanjutnya? Kita lihat di part 2!
Note: Di part 2, kepemimpinan diambil alih oleh Haruna! karena shadow ikut tanding, dan Author sendiri masih pingsan :v
PART 2
Genre: Kocak (sebenernya haruna juga enggak tau sih, emangnya ada genre kocak?)
Author: Haruna
Ya! Disini Otonashi Haruna! Hari ini aku menggantikan Shadow-san dan Author Miharu! Sekarang kita lihat pertandingan tim 1 dan tim 2
Dan, karena Haruna juga tugas jadi manager, jadi Haruna enggak sempet nulis ni fanfic, deh :v ya kalo gini seharusnya dipegang Shadow-san juga gak apa, ya :v
Dan! Sekarang kita bertemu dengan Pelatih Tim Nasional Inazuma Japan! Namanya adalah Kudou siapa gitu. (Digetok pelatih)
Lalu yang terpilih maju ke Tim Nasional adalah...
1. Endou Mamoru!« kalo ga ada dia bukan Inazuma Eleven namanya :v
2. Gouenji Shuuya!« kalo ga ada dia juga pasti langsung ditambahin sama pak mangaka, soalnya diprotes sama penggemarnya
3. Kidou Yuuto!« kalo ga ada Nii-chan GUE yang protes :v
4. Kiyama Hiroto!« untung Haruna bukan Author Miharu, kalo iya pasti langsung digantiin Aki-senpai
5. Fubuki Shirou!« kalo Fubuki yang teler fangirls!
6. Midorikawa Ryuuji!« namanya panjang sendiri :v langsung pelukan sama Hiroto waktu namanya disebut :v
7. Kogure Yuuya: terpaksa Haruna sebut, kalo enggak diberi kodok 10 kardus
8. Tachimukai Yuuki«kalo ga ada dia yang jadi cadangan kiper siapa?
9. Kazemaru Ichirouta« Haruna lupa, makanya disebut di nomer 9 :v (di bacok Kazemaru)
10. Tobitaka Seiya« 404 error not found
11. Fudou Akio« langsung bacok bacok an sama Nii-chan and Sakuma
12. Dll.
Halo? Disini Midorikawa Ryuuji! Haruna enggak bisa ngelanjutin part 2 karena habis dihajar sama anggota Inazuma Japan yang namanya enggak disebut! Haruna! GWS.«ngomong GWS nya ga niat
*KEPEMIMPINAN MIDORIKAWA AMBIL ALIH#
Eh? Lho kok gelap?
"HIROTO-NII!!! LAMPUNYA LO MATIIN!?"
"MAK LU LAMPUNYA GUE MATIIN! INI MATI LAMPU BEGO!"
Oh, ternyata mati lampu. Ya udah, Midorikawa lanjut nanti, ya!
PART 3
Midorikawa kembali!
Sekarang kita lagi dikurung di kamar!«pamer
Dan di kamar Endou kita lagi main curhat curhatan!
"Hompimpa alumunium goceng!"«gaya baru
Yang dapetg giliran pertama adalah.... Kabeyama!
"Gue galau," kata Kabeyama. "Hari senin taun lalu taun lalu taun lalu taun lalunya lagi, gue ketemu sama seorang dokter yang lagi makan...."
"Makan apa?" Tanya Kogure.
"Makan otak komodo...."
"ANJIR! DAPET DARIMANA ITU OTAK!"
"Gue juga ga ngerti, terus, gue tegur tuh bapak. Gue bilang: Pak, komodo kan udah langka pak? Lagipula dapet darimana pak? Emangnya halal? Gitu. Nah, si bapak jawabnya gini: ape lu kata? Ini bukan komodo cungu..."
"Lah, terus apa?" Tanya Kurimatsu.
"Bentar, masih ada lanjutannya. Taunya, si bapak malah ngajak gue ikut makan... namanya gue pasti ga akan menolak ajakan makan makan... Dan waktu gue rasain, ternyata rasanya kaya t*i...."
"-tiiiit-!!!!! ITU BAPAK CU* BANGET!!"
«banyak kata kata tidak pantas :v
"Ya kan? Dan gue galau sekarang karena gue baru sadar kalo itu dokter bapaknya G*****i...."«namanya Gue sensor, kalo ga di fire tornado
"ANJAAAS!!!!!" Teriak G*****i yang kedengeran sampe jupiter.
Setelah itu, Kabeyama di Bakunetsu Storm sama Gouenji....«keceplosan
Sori sori! Sekarang pangkat ke-Author-an dipegang oleh gue, Kazemaru! Gue disini menggantikan posisi Midorikawa yang pingsan karena di Bakunetsu Screw Gouenji!
Sekarang, yang mendapat giliran adalah Kidou!
"Gue juga diliputi rasa bersalah nih vroh...."
"Kenapa?" Tanya Hiroto.
"Kemarennya bulan lalu, gue mau nengok bapak angkat gue yang lagi sakit..."
"Sakit apa?" Tanya Endou.
"Sakit hati...."
Semua langsung sweatdropped.
"Nah, terus....."
"Tunggu tunggu tunggu!! Udah jam 6 nih! Kalian ga sholat maghrib?" Kata Tachimukai.
"Oh iya...."
Lanjut nanti lagi! Kazemaru and friend lagi mau sholat! Jaa ne! ^^
Kazemaru kembali! Ada yang kangen ga? «ngarep«jomblo
Kita lanjut ya!
"Nah, terus, waktu gue lagi duduk duduk di kursi deket meja resepsionis. Terus ada orang bro..."
"Ya pasti lah," kata Fubuki.
"Nah, itu orang cewe bro...."
"Widih.... cantik ya bro?"
"Cuman awalnya doang bro, gue kira itu orang cewe...."
"Haaah? Maksud lo?"
"Ya, awalnya gue kira tuh orang cewe..."
"Hah? Banci bro? Temennya Deidara?" Kata Hijikata.
"ENGGAK LAH! Nah, waktu gue sapa, gue megang pundaknya, kan...."
"Terus?"
"Si dianya noleh... Dan...."
"Apa bro?"
"Dan...."
"Apa?"
"ITU ORANG TERNYATA APHRODI C*K!!!"
"AS*!!!" Teriak semua orang di dalam tuh kamar. Oh, kecuali Kazemaru dong. Kazemaru kan baik, alim, dan tidak sombong. «DARI MANANYA!!!« teriakan orang sekamar.
Tak disangka nya, readers, tiba tiba ada bola masuk kedalem kamar! Mana mecahin jendela lagi! Dan hebatnya, bola itu langsung kena kepalanya Kidou!
"Fakk.... nih bola dateng darimana?" Kata Toramaru.
Waktu di liat baek baek, diatas bola itu ada bulu dari sayap burung bro! Udah kebayang kan, siapa yang nendang?
"Dafu*..... Aphrodi ya?" Kata Endou.
"Ajaib bener tuh anak nendang sampe sini!" Kata Kurimatsu.
Dan yang pasti terjadi adalah cederanya Kidou. Berkurang lagi deh, satu anggota curhat curhatan.
.
.
.
.
Pause pause.... || Bentar lagi di play |>
Genre: udah kocak, gaje lage.
Author: Miharu
Part 1
Cerita ini berawal ketika... ketika... pagi menjelang :v seorang GK alias Goal Keeper bernama Encok, eh sori, maksudnya Endou masih tertidur diatas kasurnya.
"MASAKO!! Eh, salah, MAMORU!! MAU TIDUR SAMPE KAPAN KAU NAK!? SAMPE KIAMAT!?" Teriak ibunya Endou.
"Halah mak... ini kan masih malem..." Endou malah guling guling gaje di kasur.
"UDAH JAM LIMA NAK!! Kamu enggak sholat subuh!!?"
"O iya mak! Sori aku lupa!" Endou segera bangun dari tidurnya dan mengambil air wudhu.
Eh, tunggu. Sejak kapan Endou rajin sholat? Author juga kagak tau.
Habis mandi, Endou langsung memakan sarapannya dan berpamitan pada kedua orang tuanya.
"Mak, pak, minta doa restunya..."
"Halah, alay kamu ini. Belom belom dah minta restu. Pacar aja kagak punya! Nikah juga masih 10 taun lagi. Elu kan jomblo," kata bapaknya Endou.
"Iya iya pak! Aku berangkat!" Endou mengenakkan jaketnya dan berangkat menuju sekolah.
Di tengah jalan, dia merasa kalau ada seorang anak yang mengikutinya.
"WOY! LO SAPA SIH!? DARI TADI NGUNTIT GUE!" Endou.
"Sori, mas! Lagian mas mau ke sekolah kan? Aku juga mau ke Raimon mas!" Kata si anak SD tadi.
"Ealah...."
"Berarti mas Endou juga ada panggilan dari pakde Hibiki ya?"
"Pakde? Sejak kapan mbah Hibiki jadi pakde? Yang ada mbah kali."
"Ya udah, deh, Mbah Hibiki."
"Oke. Namamu siapa?"
"Utsunomiya Toramaru."
"Aku Endou Mamoru."
"Iya aku udah tai, eh, sori, maksudnya tau! Nama mas kan udah terkenal!"
"Oh, iya lah. Yo dah, kita barengan aja ke Raimon."
Akhirnya, Endou jalan bareng Toramaru ke Raimon.
Sesampainya di Raimon, ada rame rame.
"Antri sembako?" Tanya Endou.
"Enggak lah! Makin govlok aja lu. Jelas kita disini dipanggil pakde Hibiki!" Kata Kazemaru.
"Ah, elu juga ternyata manggil mbah Hibiki pake pakde."
"Oi! Endou!"
Ini dia Ace Striker Raimon, Gouenji Shuuya!
"Wa! Gouenji! Gue kangen banget sama looo!!" Teriak Endou.
"Eh, sapa lo? Asal kangen aja," kata Gouenji.
"Oi!! Endou!!"
Suara cowo yang satu ini rada rada gimana.. gitu.
"Oh! Tsunami!"
Tiba tiba gelombang besar datang menerpa disertai gempa dengan kekuatan 5,6 SR!
"Ada kogure! Trus... Fubuki!"
Ya, Pangeran Salju telah datang, vroh! Ketampanan masih menghiasi wajahnya! GAK kalah dari Gouenji deh!
"Ya, Kapten."
"Dan kamu..."
Eh, siapa ya namanya? Hem... lupa. Yang mukanya jelek, bibir tebal, rambut gaje, pake kacamata itu loh! Yang dari, Kidokawa Seishuu!
"Oh, kamu! Preambul Net!"
"TRIANGLE Z GOVLOK! INI ANAK MAKIN HARI MAKIN GOVLOK AJA!"
"AH, ELU MAKIN HARI JUGA MAKIN ANCUR AJA!"
Dan pertengkaran gaje antara Endou dan -namatakdiketahui- berlanjut sampe taun depan.
Setelah ketemuan sama kawan kawan plus kenalan ma Tobitaka si cowo gangster yang bolak balik nyisir rambut atau poni ga jelas lah. Terus ketemuan ma kembaran yang ga ada bedanya ma kembarannya (mbulet), alias megane kazuto«ni orang pake nama Kirito ya?».
Kemudian, bertemu dengan saudara
Aburame Shino :v alias Kidou Yuuto dan sahabat sematinya(YANG ADA JUGA SAHABAT SEJATI KALEE) alias Sakuma Jirou.
Dan..
"Endou, ada orang tak terduga yang juga datang," kata Gouenji.
Dan, para readers diharap menggelar karpet merah, menyingkir dari jalan dan... sambutlah! Seorang cowo kece nan cool(bedanya apa?) Dengan rambut merahnya! Masuk top 3 cowo paling keren sedunia InaIre!
KIYAMA HIROTO!!!
"Ya, Endou-kun."
Author sampe ga mampu ngelanjutin ni fanfic... keburu teler :v :v
"Oi!! Author pingsan!!!" Teriak Tsunami.
"Biarin aja, gue ambil alih komputer nya," kata Shadow yang menurut Author kembarannya Kai di Tales Runner.
*KEPEMIMPINAN SHADOW AMBIL ALIH#
Ya, Shadow sendiri juga lupa apa yang Hiroto bilang ke Endou waktu itu.
"Ada satu orang lagi dari Aliea Gakuen."
Seorang cewe, eh salah, maksudnya cowo :v datang dengan aura ungu kehitaman(paan tuh).
"Aura paan nih?" Kata shadow.
"Biasa kale... Aura lo juga kek gini kok," kata Someoka.
"Iya emang sih."
"...." shadow mikir.
"BACOT AJA LU! DIEM KEK!"
"ELU JUGA BACOT AJA! GUE MAU NGENALIN DIRI, ELU PADA RIBUT! GA SESUAI TEKS NIH!" Teriak ntu anak.
"Saturnus, eh, salah, bumi mempunyai peribahasa, eh, peribahasa apa pepatah, ya? Ya itu lah pokoknya. Air beriak tanda ada ikan!"
"NGASALNYA KETERLALUAN BANGEET!!!"
"Lagipula yang bener kan Air beriak tanda ada kecebong!" Seru Kogure
"Elu juga sama aja," kata Fubuki. Astaga, martabatnya hilang hanya karena kata 'Elu' :v
"Reize!" Kata Someoka.
"Kapten Gembong Storm!" Seru fubuki.
"EH, MATA LU GEMBONG STORM! GEMINI STORM GOVLOK!" Teriak Midorikawa.
"Oh, jadi elu yang nge hancurin sekolah gue!?" Teriak
-takdiketahuinamanya-
"Iya emang kan? Tuh elu udah tau sendiri," kata Midorikawa.
"YA TERUS ELU GA GANTI RUGI!!"
"Salah lu sendiri napa ga bikin benteng?"
"Iya sih. SERAH LU DAH!"
"He He."
Pertemuan gaje berakhir ketika Mbah Hibiki dateng bareng Natsumi and para manager.
"Mbah Hibiki!" Seru Endou.
"Sejak kapan gue jadi kakek LU? Ogah. Jadi, kalian dikumpulkan disini untuk diseleksi menjadi anggota..."
"Boyband," potong Kazemaru.
"Tolol!" Teriak Aki. "Buat jadi perwakilan jepang ngerti!"
Dan, waktu mereka ngomong ngomong soal Inazuma Japan, seseorang(ciyes) menendang bola menuju arah gerombolan. Kidou yang PEKA :v berbalik dan, sebenernya sih niatnya mau nendang balik tuh bola, tapi malah kena kacamata nya :v untung Haruna selalu jaga jaga bawa 10 kacamata :v
"Fudou!"
Salah satu cowo berandalan :v muncul disini. Ya kalo ga percaya liat aja gaya rambutnya :v
Ya... abaikan. Lagipula ketemuan ma Fudou ga penting kok :v :v (Shadow Ditabok Fudou)
Dan, mereka dibagi menjadi dua tim!
Suasana makin ricuh :v karena Hiroto sama Midorikawa dipisah timnya :v Kidou and Sakuma tengkar sama Fudou, ya... makin ricuh lah pokoknya.
Dan? Apa yang terjadi selanjutnya? Kita lihat di part 2!
Note: Di part 2, kepemimpinan diambil alih oleh Haruna! karena shadow ikut tanding, dan Author sendiri masih pingsan :v
PART 2
Genre: Kocak (sebenernya haruna juga enggak tau sih, emangnya ada genre kocak?)
Author: Haruna
Ya! Disini Otonashi Haruna! Hari ini aku menggantikan Shadow-san dan Author Miharu! Sekarang kita lihat pertandingan tim 1 dan tim 2
Dan, karena Haruna juga tugas jadi manager, jadi Haruna enggak sempet nulis ni fanfic, deh :v ya kalo gini seharusnya dipegang Shadow-san juga gak apa, ya :v
Dan! Sekarang kita bertemu dengan Pelatih Tim Nasional Inazuma Japan! Namanya adalah Kudou siapa gitu. (Digetok pelatih)
Lalu yang terpilih maju ke Tim Nasional adalah...
1. Endou Mamoru!« kalo ga ada dia bukan Inazuma Eleven namanya :v
2. Gouenji Shuuya!« kalo ga ada dia juga pasti langsung ditambahin sama pak mangaka, soalnya diprotes sama penggemarnya
3. Kidou Yuuto!« kalo ga ada Nii-chan GUE yang protes :v
4. Kiyama Hiroto!« untung Haruna bukan Author Miharu, kalo iya pasti langsung digantiin Aki-senpai
5. Fubuki Shirou!« kalo Fubuki yang teler fangirls!
6. Midorikawa Ryuuji!« namanya panjang sendiri :v langsung pelukan sama Hiroto waktu namanya disebut :v
7. Kogure Yuuya: terpaksa Haruna sebut, kalo enggak diberi kodok 10 kardus
8. Tachimukai Yuuki«kalo ga ada dia yang jadi cadangan kiper siapa?
9. Kazemaru Ichirouta« Haruna lupa, makanya disebut di nomer 9 :v (di bacok Kazemaru)
10. Tobitaka Seiya« 404 error not found
11. Fudou Akio« langsung bacok bacok an sama Nii-chan and Sakuma
12. Dll.
Halo? Disini Midorikawa Ryuuji! Haruna enggak bisa ngelanjutin part 2 karena habis dihajar sama anggota Inazuma Japan yang namanya enggak disebut! Haruna! GWS.«ngomong GWS nya ga niat
*KEPEMIMPINAN MIDORIKAWA AMBIL ALIH#
Eh? Lho kok gelap?
"HIROTO-NII!!! LAMPUNYA LO MATIIN!?"
"MAK LU LAMPUNYA GUE MATIIN! INI MATI LAMPU BEGO!"
Oh, ternyata mati lampu. Ya udah, Midorikawa lanjut nanti, ya!
PART 3
Midorikawa kembali!
Sekarang kita lagi dikurung di kamar!«pamer
Dan di kamar Endou kita lagi main curhat curhatan!
"Hompimpa alumunium goceng!"«gaya baru
Yang dapetg giliran pertama adalah.... Kabeyama!
"Gue galau," kata Kabeyama. "Hari senin taun lalu taun lalu taun lalu taun lalunya lagi, gue ketemu sama seorang dokter yang lagi makan...."
"Makan apa?" Tanya Kogure.
"Makan otak komodo...."
"ANJIR! DAPET DARIMANA ITU OTAK!"
"Gue juga ga ngerti, terus, gue tegur tuh bapak. Gue bilang: Pak, komodo kan udah langka pak? Lagipula dapet darimana pak? Emangnya halal? Gitu. Nah, si bapak jawabnya gini: ape lu kata? Ini bukan komodo cungu..."
"Lah, terus apa?" Tanya Kurimatsu.
"Bentar, masih ada lanjutannya. Taunya, si bapak malah ngajak gue ikut makan... namanya gue pasti ga akan menolak ajakan makan makan... Dan waktu gue rasain, ternyata rasanya kaya t*i...."
"-tiiiit-!!!!! ITU BAPAK CU* BANGET!!"
«banyak kata kata tidak pantas :v
"Ya kan? Dan gue galau sekarang karena gue baru sadar kalo itu dokter bapaknya G*****i...."«namanya Gue sensor, kalo ga di fire tornado
"ANJAAAS!!!!!" Teriak G*****i yang kedengeran sampe jupiter.
Setelah itu, Kabeyama di Bakunetsu Storm sama Gouenji....«keceplosan
Sori sori! Sekarang pangkat ke-Author-an dipegang oleh gue, Kazemaru! Gue disini menggantikan posisi Midorikawa yang pingsan karena di Bakunetsu Screw Gouenji!
Sekarang, yang mendapat giliran adalah Kidou!
"Gue juga diliputi rasa bersalah nih vroh...."
"Kenapa?" Tanya Hiroto.
"Kemarennya bulan lalu, gue mau nengok bapak angkat gue yang lagi sakit..."
"Sakit apa?" Tanya Endou.
"Sakit hati...."
Semua langsung sweatdropped.
"Nah, terus....."
"Tunggu tunggu tunggu!! Udah jam 6 nih! Kalian ga sholat maghrib?" Kata Tachimukai.
"Oh iya...."
Lanjut nanti lagi! Kazemaru and friend lagi mau sholat! Jaa ne! ^^
Kazemaru kembali! Ada yang kangen ga? «ngarep«jomblo
Kita lanjut ya!
"Nah, terus, waktu gue lagi duduk duduk di kursi deket meja resepsionis. Terus ada orang bro..."
"Ya pasti lah," kata Fubuki.
"Nah, itu orang cewe bro...."
"Widih.... cantik ya bro?"
"Cuman awalnya doang bro, gue kira itu orang cewe...."
"Haaah? Maksud lo?"
"Ya, awalnya gue kira tuh orang cewe..."
"Hah? Banci bro? Temennya Deidara?" Kata Hijikata.
"ENGGAK LAH! Nah, waktu gue sapa, gue megang pundaknya, kan...."
"Terus?"
"Si dianya noleh... Dan...."
"Apa bro?"
"Dan...."
"Apa?"
"ITU ORANG TERNYATA APHRODI C*K!!!"
"AS*!!!" Teriak semua orang di dalam tuh kamar. Oh, kecuali Kazemaru dong. Kazemaru kan baik, alim, dan tidak sombong. «DARI MANANYA!!!« teriakan orang sekamar.
Tak disangka nya, readers, tiba tiba ada bola masuk kedalem kamar! Mana mecahin jendela lagi! Dan hebatnya, bola itu langsung kena kepalanya Kidou!
"Fakk.... nih bola dateng darimana?" Kata Toramaru.
Waktu di liat baek baek, diatas bola itu ada bulu dari sayap burung bro! Udah kebayang kan, siapa yang nendang?
"Dafu*..... Aphrodi ya?" Kata Endou.
"Ajaib bener tuh anak nendang sampe sini!" Kata Kurimatsu.
Dan yang pasti terjadi adalah cederanya Kidou. Berkurang lagi deh, satu anggota curhat curhatan.
.
.
.
.
Pause pause.... || Bentar lagi di play |>
Tuesday, 23 September 2014
Inazuma Eleven Fanfiction || Bukan Sekadar Rekan
Inazuma Eleven Fanfiction || Bukan Hanya Sekedar Rekan
(Midorikawa's POV)
========================================================================
Saat itu, aku sedang putus asa akan kemampuanku. Aku pikir, "Tidak seharusnya aku disini. Kemampuanku berada jauh di bawah mereka semua."
Aku terlalu memaksakan diri berlatih.
Tanpa kusadari, seseorang memperhatikanku dari jauh. Menurutku, mungkin ia berpikir, " Apa yang membuatnya berlatih sebegitu kerasnya?"
Malamnya, setelah aku mengambil makanan, aku segera memilih tempat duduk yang masih kosong. Tidak kuduga, seseorang datang menghampiriku. "Aku boleh duduk disini, kan?"
Sudah kuduga. Ya, Kiyama Hiroto.
"Hiroto."
-----------------------------------------o0o--------------------o0o----------------------------------------------------
"Midorikawa."
Aku menoleh.
"Sebenarnya aku berharap bisa pergi bersamamu, tapi...."
"Sudahlah. Kenyataannya, memang aku belum bisa menyusulmu dan yang lainnya. Aku masih perlu banyak berlatih."
"Apa kau benar tak apa- apa?"
Aku mengangguk. "Pasti. Aku mendukungmu dari Jepang."
Ia memberikan senyum terakhirnya yang kulihat hari itu.
============================================================
Ah, lupakan yang tadi itu. Aku hanya mengingat ingat saat saat aku masih SMP.
"Ryuuji?"
Suara itu.
"Hiroto. Maaf, sepertinya aku lelah."
"Kau yakin masih mau disini? Kau terlihat sangat kelelahan."
"Ya..."
Ia tersenyum. "Baiklah."
Saat itu, pukul 11 malam. Sungguh, sebenarnya aku sangat ingin beristirahat. Tapi entah mengapa, aku sangat ingin segera menyelesaikan tugas ini dan beristirahat tanpa ada beban.
Aku keluar ruangan untuk membeli minuman kaleng.
"Midorikawa?"
Aku menoleh. Sosok berambut biru itu tersenyum padaku. "Kau masih disini?"
"Ya," aku mengangguk. "Kamu juga masih disini?"
"Iya... tidak juga. Aku pulang setelah ini. Perhatikan kesehatanmu. Hiroto akan kesulitan tanpa bantuanmu," kata Reina.
Hiroto akan kesulitan tanpa bantuanku? Huuh, sebenarnya tanpa bantuanku pun dia bisa.
Memasuki ruangan, Hiroto tertidur di meja kerjanya. Aku menghampirinya. Aku melihat ke monitor laptop yang dia bawa. Ya... Aku sadar kalau ternyata sepertinya dia memang butuh bantuanku.
"Hiroto," aku mengguncang tubuhnya. Dan, dia tidak merespon sama sekali.
Dia memang sudah sering tertidur seperti ini. Aku mematikan laptopnya.
Malam ini, aku terpaksa tetap tinggal di kantor untuk mengerjakan tugas. Dan malam ini pula, lagi lagi aku harus meminjamkan jaketku untuk menyelimuti Hiroto.
Kadang terlintas di pikiranku, kenapa aku yang dipilih menjadi sekretaris? Padahal masih ada Nagumo, Suzuno, atau Reina. Hal itu terus terngiang di pikiranku selama mengerjakan tugas.
Sesuai harapanku, tugas itu selesai di malam itu. Pukul 2, tugasku selesai. Yang ada di pikiranku hanyalah istirahat.
Tapi melihat Hiroto yang sendirian disini, rasanya aku jadi tak ingin pulang. Kuputuskan malam itu aku bermalam di kantor.
Selamat malam.
PART 2
(Hiroto's POV)
"Hiroto, Hiroto."
Aku terbangun. Kulihat wajahnya, dan dia tersenyum. "Kau masih mengantuk?"
"Ya..." Aku berusaha membuka mataku lebih lebar. "Kamu disini semalam?"
Ia mengangguk. "Iya.lihat? Kau tertidur lagi disini. Kamu yakin tidak perlu istirahat di rumah? Bisa bisa kantor ini jadi rumahmu sendiri."
"Haha," aku tertawa kecil. "Tugasmu?"
"Sudah selesai. Tapi aku tidak akan menyerahkannya padamu."
Aku menatapnya. "Kenapa?"
Dia tersenyum dan berkata,"Kau tahu? Kamu terlalu banyak berada di depan komputer. Kau terlalu lelah. Aku tidak mau membebani mu untuk sementara ini. Mau ke kafe?"
Aku duduk berhadapan dengannya.
"Aku mau kamu istirahat di rumah kali ini."
Aku terkejut. "Apa?"
"Iya, istirahat di rumah," katanya. "Aku urus pekerjaanmu. Kamu harus di rumah hari ini."
Aku hanya menatapnya diam. Dan, dia memandangku dengan serius.
"Kamu terlalu baik, Ryuuji. Aku tetap masuk hari ini."
"Enggak. Aku serius. Dan kamu harus tetap di rumah."
Aku memandang keluar jendela.
Hari ini tampak cerah.
Ya.... seandainya dia tahu. Alasanku tidak ingin istirahat hari ini karena aku....
Aku tidak mau jauh jauh darinya.
"Oh, Hiroto."
Aku tersenyum. "Kakak baik baik saja?"
"Tentu. Aku sehat. Bagaimana keadaanmu?"
"Yah..." Aku melepas kacamataku. "Entahlah..."
"Apa yang kau bicarakan? Kamu kelelahan kan? Kenapa kamu memaksakan diri kesini?"
"Kakak tahu kalau aku tidak betah di rumah seharian."
"Iya, Kakak tahu. Tapi bukan berarti kamu harus jauh jauh kesini!"
Suasana Sun Garden masih tetap ramai hingga jam tidur siang tiba.
"Ne, Hiroto..." Kakak duduk di sebelahku. "Midorikawa menjagamu kan?"
"Eh?" Aku tersentak. "Ryuuji?"
Kakak mengangguk. "Aku tahu kamu terlalu sibuk sampai lupa kesehatanmu. Dia menelfonku kemarin. Katanya kau tertidur di kantor lagi kan?"
Angin berhembus memasuki jendela ruangan.
"Midorikawa memaksamu untuk istirahat karena dia peduli padamu, Hiroto. Dia tak ingin kamu terlalu lelah kemudian sakit. Dia sahabatmu. Kenapa kau tidak hargai dia yang rela mengerjakan semua tugasmu dengan menuruti kemauannya?"
Aku membaringkan tubuhku diatas kasur, memikirkan kata kata Kakak tadi. Ya, aku akui kalau Ryuuji memang peduli padaku. Aku sendiri juga senang karena dia peduli. Walau begitu, seharusnya dia tidak perlu menyelesaikan tugasku juga.
Seseorang mengetuk pintu rumahku.
"Hiroto?"
Dia.
Part 3
(Normal POV)
"Hiroto."
"Kenapa kau kemari?"
"Huh, kenapa lagi? Untuk tidak memastikan kau keluar dari rumah lagi, kan? Aku ditelepon Hitomiko- san. Kamu pergi ke Sun Garden."
"Ya.... Memang. Aku benar- benar tidak betah di rumah seharian!"
"Aku mengerti. Tapi kamu harus istirahat, Hiroto."
"Ya, ya..."
"Kamu mengerjakan tugasku?"
"Hm?" Midorikawa menoleh. "Tentu. Aku sudah berjanji kan?"
Kakak, kurasa kau benar.
Dia memang memperhatikanku dan mengkhawatirkanku lebih dari apa yang pernah aku pikirkan.
Aku mungkin memang... Tidak boleh mengecewakannya.
"Hiroto... Kamu demam. Kurasa kau harus lebih lama di rumah."
Tersadar dari lamunannya, Hiroto mendapati Midorikawa berdiri tepat di depannya. Ia tak dapat menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah.
"Ryuuji.... Bisa mundur... Sedikit?"
"Eh? Oh, iya. Maaf, maaf... Kamu terlihat pucat."
"Huuh..." Hiroto menghela nafas. "Kamu bilang apa tadi?"
"Kamu harus tetap di rumah sampai kau sembuh."
"Enggak enggak enggak. Aku besok harus masuk."
"Tidak. Aku mewajibkanmu tidak masuk besok."
Ryuuji.
PART 3
(Hiroto's POV)
"Ya..." aku membaringkan tubuh diatas kasur. "Sepertinya Ryuuji benar. Aku memang demam."
Tapi, kalau aku terus terusan di rumah seperti ini.... Tugasku dia kerjakan semua?
"Ryuuji!"
"Hiroto!? Kenapa kamu ke kantor!?"
"Kamu mengerjakan dua tugas sekaligus! Aku tidak akan membiarkan itu terjadi! Kamu juga akan kelelahan kan? Sudahlah, biar aku yang kerjakan!"
"Hiroto...?"
Yah.... Aku akui kepalaku memang pusing, dan badanku pun meriang. Tapi kalau Ryuuji juga mengerjakan tugasku, dia juga akan demam. Lalu yang mengerjakan tugas siapa?
"Hiroto...." ia menghampiriku. "Kau yakin tak apa?"
Aku mengangguk. "Tentu."
"Tapi.... sakitmu nanti tambah parah?"
"Ya... mungkin saja. Tapi aku lebih tidak mau kamu yang sakit. Lebih baik aku yang mengerjakan."
"Lebih tak mau... Aku yang sakit?"
"Iya. Bagaimanapun juga, kamu punya posisi penting disini."
"Ya, meski kau bilang begitu.... posisi mu disini lebih penting, Hiroto."
"Tapi aku tidak bisa mengerjakan tugas disini tanpamu."
"Bukan hanya aku kan?"
"Ya... Tapi rasanya aku... Lebih membutuhkan bantuanmu daripada yang lain."
Tugasku sudah selesai. Aku sudah di rumah. Aku hanya butuh istirahat. Mengesalkannya, saat aku sudah beristirahat, seseorang memasuki rumahku.
"HIROTO-SAN!!!"
Suara itu. Membuatku. Makin. Pusing.
"Kariya?"
"Aku diberitahu Hitomiko-san kalau Hiroto-san lagi sakit."
Kakak.
"Lalu? Sedang apa kau disini?" Tanyaku. Sumpah, kedatangan anak ini membuatku makin sakit.
"Hem.... Aku disuruh Midorikawa-san mengantarkan ini."
"Ryuuji?"
"Iya. Oh, sebentar lagi aku ada latihan. Aku pergi ya."
Dia pergi. Tunggu. Apa yang diberikan Ryuuji?
"Sudah kuduga."
Terlalu mengkhawatirkan.
"Ryuuji?"
"Oh, Hiroto. Kau sudah minum obat yang diberikan Kariya kan?"
"Ya. Sudah. Ryuuji, kurasa kau terlalu memikirkanku. Jangan khawatirkan aku. Khawatirkan dirimu sendiri. Aku tak mau keadaanmu sepertiku."
"Huuh... Apa salahnya aku mengkhawatirkan mu? Kalau aku sakit juga kamu memperhatikanku kan? Lagipula kamu...."
"Apa?"
"Bukan apa apa. Sudah, ya. Istirahatlah."
Apa? Dia bilang apa?
Entahlah.
Aku harus istirahat.
PART 4
(Hiroto's POV)
Selang beberapa hari, keadaanku berangsur membaik. Hari ini aku mulai aktif di kantor kembali.
"HIROTO!!!"
"R-Ryuuji!?"
Memasuki ruangan, tiba- tiba ia memelukku.
"Apa ini!?"
"Kamu lama banget, sih, enggak masuknya?"
"Yah, jangan salahkan aku. Dan juga..."
"Apa?"
"Kenapa kau langsung memelukku tadi?"
Pipinya tampak bersemu merah. "Maaf, tampaknya tadi gaya gravitasi berpusat padamu."
"Haha," tawaku. "Oh, Ryuuji. Aku berterima kasih padamu. Obat yang kamu berikan sangat membantuku."
"Iie, nandemonai wa. Tugasmu sudah menunggu."
"Hei, Ryuuji..."
"Ya?"
"Kenapa kau begitu memperhatikanku?"
"Hem... Kenapa ya? Karena aku sahabatmu kan?"
"Hanya itu?"
"Hm.... Mungkin... karena aku.... menyukaimu?"
Hari itu terasa lebih sejuk dari biasanya.
.........................o0o......................
Selesai? Enggak tau juga. Udah enggak ada ide lagi. Kalau ada usul, req, kritik saran, dan kawan kawan :v bisa tulis di kolom komentar atau kirim ke alieagran@gmail.com
(Midorikawa's POV)
========================================================================
Saat itu, aku sedang putus asa akan kemampuanku. Aku pikir, "Tidak seharusnya aku disini. Kemampuanku berada jauh di bawah mereka semua."
Aku terlalu memaksakan diri berlatih.
Tanpa kusadari, seseorang memperhatikanku dari jauh. Menurutku, mungkin ia berpikir, " Apa yang membuatnya berlatih sebegitu kerasnya?"
Malamnya, setelah aku mengambil makanan, aku segera memilih tempat duduk yang masih kosong. Tidak kuduga, seseorang datang menghampiriku. "Aku boleh duduk disini, kan?"
Sudah kuduga. Ya, Kiyama Hiroto.
"Hiroto."
-----------------------------------------o0o--------------------o0o----------------------------------------------------
"Midorikawa."
Aku menoleh.
"Sebenarnya aku berharap bisa pergi bersamamu, tapi...."
"Sudahlah. Kenyataannya, memang aku belum bisa menyusulmu dan yang lainnya. Aku masih perlu banyak berlatih."
"Apa kau benar tak apa- apa?"
Aku mengangguk. "Pasti. Aku mendukungmu dari Jepang."
Ia memberikan senyum terakhirnya yang kulihat hari itu.
============================================================
Ah, lupakan yang tadi itu. Aku hanya mengingat ingat saat saat aku masih SMP.
"Ryuuji?"
Suara itu.
"Hiroto. Maaf, sepertinya aku lelah."
"Kau yakin masih mau disini? Kau terlihat sangat kelelahan."
"Ya..."
Ia tersenyum. "Baiklah."
Saat itu, pukul 11 malam. Sungguh, sebenarnya aku sangat ingin beristirahat. Tapi entah mengapa, aku sangat ingin segera menyelesaikan tugas ini dan beristirahat tanpa ada beban.
Aku keluar ruangan untuk membeli minuman kaleng.
"Midorikawa?"
Aku menoleh. Sosok berambut biru itu tersenyum padaku. "Kau masih disini?"
"Ya," aku mengangguk. "Kamu juga masih disini?"
"Iya... tidak juga. Aku pulang setelah ini. Perhatikan kesehatanmu. Hiroto akan kesulitan tanpa bantuanmu," kata Reina.
Hiroto akan kesulitan tanpa bantuanku? Huuh, sebenarnya tanpa bantuanku pun dia bisa.
Memasuki ruangan, Hiroto tertidur di meja kerjanya. Aku menghampirinya. Aku melihat ke monitor laptop yang dia bawa. Ya... Aku sadar kalau ternyata sepertinya dia memang butuh bantuanku.
"Hiroto," aku mengguncang tubuhnya. Dan, dia tidak merespon sama sekali.
Dia memang sudah sering tertidur seperti ini. Aku mematikan laptopnya.
Malam ini, aku terpaksa tetap tinggal di kantor untuk mengerjakan tugas. Dan malam ini pula, lagi lagi aku harus meminjamkan jaketku untuk menyelimuti Hiroto.
Kadang terlintas di pikiranku, kenapa aku yang dipilih menjadi sekretaris? Padahal masih ada Nagumo, Suzuno, atau Reina. Hal itu terus terngiang di pikiranku selama mengerjakan tugas.
Sesuai harapanku, tugas itu selesai di malam itu. Pukul 2, tugasku selesai. Yang ada di pikiranku hanyalah istirahat.
Tapi melihat Hiroto yang sendirian disini, rasanya aku jadi tak ingin pulang. Kuputuskan malam itu aku bermalam di kantor.
Selamat malam.
PART 2
(Hiroto's POV)
"Hiroto, Hiroto."
Aku terbangun. Kulihat wajahnya, dan dia tersenyum. "Kau masih mengantuk?"
"Ya..." Aku berusaha membuka mataku lebih lebar. "Kamu disini semalam?"
Ia mengangguk. "Iya.lihat? Kau tertidur lagi disini. Kamu yakin tidak perlu istirahat di rumah? Bisa bisa kantor ini jadi rumahmu sendiri."
"Haha," aku tertawa kecil. "Tugasmu?"
"Sudah selesai. Tapi aku tidak akan menyerahkannya padamu."
Aku menatapnya. "Kenapa?"
Dia tersenyum dan berkata,"Kau tahu? Kamu terlalu banyak berada di depan komputer. Kau terlalu lelah. Aku tidak mau membebani mu untuk sementara ini. Mau ke kafe?"
Aku duduk berhadapan dengannya.
"Aku mau kamu istirahat di rumah kali ini."
Aku terkejut. "Apa?"
"Iya, istirahat di rumah," katanya. "Aku urus pekerjaanmu. Kamu harus di rumah hari ini."
Aku hanya menatapnya diam. Dan, dia memandangku dengan serius.
"Kamu terlalu baik, Ryuuji. Aku tetap masuk hari ini."
"Enggak. Aku serius. Dan kamu harus tetap di rumah."
Aku memandang keluar jendela.
Hari ini tampak cerah.
Ya.... seandainya dia tahu. Alasanku tidak ingin istirahat hari ini karena aku....
Aku tidak mau jauh jauh darinya.
"Oh, Hiroto."
Aku tersenyum. "Kakak baik baik saja?"
"Tentu. Aku sehat. Bagaimana keadaanmu?"
"Yah..." Aku melepas kacamataku. "Entahlah..."
"Apa yang kau bicarakan? Kamu kelelahan kan? Kenapa kamu memaksakan diri kesini?"
"Kakak tahu kalau aku tidak betah di rumah seharian."
"Iya, Kakak tahu. Tapi bukan berarti kamu harus jauh jauh kesini!"
Suasana Sun Garden masih tetap ramai hingga jam tidur siang tiba.
"Ne, Hiroto..." Kakak duduk di sebelahku. "Midorikawa menjagamu kan?"
"Eh?" Aku tersentak. "Ryuuji?"
Kakak mengangguk. "Aku tahu kamu terlalu sibuk sampai lupa kesehatanmu. Dia menelfonku kemarin. Katanya kau tertidur di kantor lagi kan?"
Angin berhembus memasuki jendela ruangan.
"Midorikawa memaksamu untuk istirahat karena dia peduli padamu, Hiroto. Dia tak ingin kamu terlalu lelah kemudian sakit. Dia sahabatmu. Kenapa kau tidak hargai dia yang rela mengerjakan semua tugasmu dengan menuruti kemauannya?"
Aku membaringkan tubuhku diatas kasur, memikirkan kata kata Kakak tadi. Ya, aku akui kalau Ryuuji memang peduli padaku. Aku sendiri juga senang karena dia peduli. Walau begitu, seharusnya dia tidak perlu menyelesaikan tugasku juga.
Seseorang mengetuk pintu rumahku.
"Hiroto?"
Dia.
Part 3
(Normal POV)
"Hiroto."
"Kenapa kau kemari?"
"Huh, kenapa lagi? Untuk tidak memastikan kau keluar dari rumah lagi, kan? Aku ditelepon Hitomiko- san. Kamu pergi ke Sun Garden."
"Ya.... Memang. Aku benar- benar tidak betah di rumah seharian!"
"Aku mengerti. Tapi kamu harus istirahat, Hiroto."
"Ya, ya..."
"Kamu mengerjakan tugasku?"
"Hm?" Midorikawa menoleh. "Tentu. Aku sudah berjanji kan?"
Kakak, kurasa kau benar.
Dia memang memperhatikanku dan mengkhawatirkanku lebih dari apa yang pernah aku pikirkan.
Aku mungkin memang... Tidak boleh mengecewakannya.
"Hiroto... Kamu demam. Kurasa kau harus lebih lama di rumah."
Tersadar dari lamunannya, Hiroto mendapati Midorikawa berdiri tepat di depannya. Ia tak dapat menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah.
"Ryuuji.... Bisa mundur... Sedikit?"
"Eh? Oh, iya. Maaf, maaf... Kamu terlihat pucat."
"Huuh..." Hiroto menghela nafas. "Kamu bilang apa tadi?"
"Kamu harus tetap di rumah sampai kau sembuh."
"Enggak enggak enggak. Aku besok harus masuk."
"Tidak. Aku mewajibkanmu tidak masuk besok."
Ryuuji.
PART 3
(Hiroto's POV)
"Ya..." aku membaringkan tubuh diatas kasur. "Sepertinya Ryuuji benar. Aku memang demam."
Tapi, kalau aku terus terusan di rumah seperti ini.... Tugasku dia kerjakan semua?
"Ryuuji!"
"Hiroto!? Kenapa kamu ke kantor!?"
"Kamu mengerjakan dua tugas sekaligus! Aku tidak akan membiarkan itu terjadi! Kamu juga akan kelelahan kan? Sudahlah, biar aku yang kerjakan!"
"Hiroto...?"
Yah.... Aku akui kepalaku memang pusing, dan badanku pun meriang. Tapi kalau Ryuuji juga mengerjakan tugasku, dia juga akan demam. Lalu yang mengerjakan tugas siapa?
"Hiroto...." ia menghampiriku. "Kau yakin tak apa?"
Aku mengangguk. "Tentu."
"Tapi.... sakitmu nanti tambah parah?"
"Ya... mungkin saja. Tapi aku lebih tidak mau kamu yang sakit. Lebih baik aku yang mengerjakan."
"Lebih tak mau... Aku yang sakit?"
"Iya. Bagaimanapun juga, kamu punya posisi penting disini."
"Ya, meski kau bilang begitu.... posisi mu disini lebih penting, Hiroto."
"Tapi aku tidak bisa mengerjakan tugas disini tanpamu."
"Bukan hanya aku kan?"
"Ya... Tapi rasanya aku... Lebih membutuhkan bantuanmu daripada yang lain."
Tugasku sudah selesai. Aku sudah di rumah. Aku hanya butuh istirahat. Mengesalkannya, saat aku sudah beristirahat, seseorang memasuki rumahku.
"HIROTO-SAN!!!"
Suara itu. Membuatku. Makin. Pusing.
"Kariya?"
"Aku diberitahu Hitomiko-san kalau Hiroto-san lagi sakit."
Kakak.
"Lalu? Sedang apa kau disini?" Tanyaku. Sumpah, kedatangan anak ini membuatku makin sakit.
"Hem.... Aku disuruh Midorikawa-san mengantarkan ini."
"Ryuuji?"
"Iya. Oh, sebentar lagi aku ada latihan. Aku pergi ya."
Dia pergi. Tunggu. Apa yang diberikan Ryuuji?
"Sudah kuduga."
Terlalu mengkhawatirkan.
"Ryuuji?"
"Oh, Hiroto. Kau sudah minum obat yang diberikan Kariya kan?"
"Ya. Sudah. Ryuuji, kurasa kau terlalu memikirkanku. Jangan khawatirkan aku. Khawatirkan dirimu sendiri. Aku tak mau keadaanmu sepertiku."
"Huuh... Apa salahnya aku mengkhawatirkan mu? Kalau aku sakit juga kamu memperhatikanku kan? Lagipula kamu...."
"Apa?"
"Bukan apa apa. Sudah, ya. Istirahatlah."
Apa? Dia bilang apa?
Entahlah.
Aku harus istirahat.
PART 4
(Hiroto's POV)
Selang beberapa hari, keadaanku berangsur membaik. Hari ini aku mulai aktif di kantor kembali.
"HIROTO!!!"
"R-Ryuuji!?"
Memasuki ruangan, tiba- tiba ia memelukku.
"Apa ini!?"
"Kamu lama banget, sih, enggak masuknya?"
"Yah, jangan salahkan aku. Dan juga..."
"Apa?"
"Kenapa kau langsung memelukku tadi?"
Pipinya tampak bersemu merah. "Maaf, tampaknya tadi gaya gravitasi berpusat padamu."
"Haha," tawaku. "Oh, Ryuuji. Aku berterima kasih padamu. Obat yang kamu berikan sangat membantuku."
"Iie, nandemonai wa. Tugasmu sudah menunggu."
"Hei, Ryuuji..."
"Ya?"
"Kenapa kau begitu memperhatikanku?"
"Hem... Kenapa ya? Karena aku sahabatmu kan?"
"Hanya itu?"
"Hm.... Mungkin... karena aku.... menyukaimu?"
Hari itu terasa lebih sejuk dari biasanya.
.........................o0o......................
Selesai? Enggak tau juga. Udah enggak ada ide lagi. Kalau ada usul, req, kritik saran, dan kawan kawan :v bisa tulis di kolom komentar atau kirim ke alieagran@gmail.com
Subscribe to:
Posts (Atom)