(Midorikawa's POV)
========================================================================
Saat itu, aku sedang putus asa akan kemampuanku. Aku pikir, "Tidak seharusnya aku disini. Kemampuanku berada jauh di bawah mereka semua."
Aku terlalu memaksakan diri berlatih.
Tanpa kusadari, seseorang memperhatikanku dari jauh. Menurutku, mungkin ia berpikir, " Apa yang membuatnya berlatih sebegitu kerasnya?"
Malamnya, setelah aku mengambil makanan, aku segera memilih tempat duduk yang masih kosong. Tidak kuduga, seseorang datang menghampiriku. "Aku boleh duduk disini, kan?"
Sudah kuduga. Ya, Kiyama Hiroto.
"Hiroto."
-----------------------------------------o0o--------------------o0o----------------------------------------------------
"Midorikawa."
Aku menoleh.
"Sebenarnya aku berharap bisa pergi bersamamu, tapi...."
"Sudahlah. Kenyataannya, memang aku belum bisa menyusulmu dan yang lainnya. Aku masih perlu banyak berlatih."
"Apa kau benar tak apa- apa?"
Aku mengangguk. "Pasti. Aku mendukungmu dari Jepang."
Ia memberikan senyum terakhirnya yang kulihat hari itu.
============================================================
Ah, lupakan yang tadi itu. Aku hanya mengingat ingat saat saat aku masih SMP.
"Ryuuji?"
Suara itu.
"Hiroto. Maaf, sepertinya aku lelah."
"Kau yakin masih mau disini? Kau terlihat sangat kelelahan."
"Ya..."
Ia tersenyum. "Baiklah."
Saat itu, pukul 11 malam. Sungguh, sebenarnya aku sangat ingin beristirahat. Tapi entah mengapa, aku sangat ingin segera menyelesaikan tugas ini dan beristirahat tanpa ada beban.
Aku keluar ruangan untuk membeli minuman kaleng.
"Midorikawa?"
Aku menoleh. Sosok berambut biru itu tersenyum padaku. "Kau masih disini?"
"Ya," aku mengangguk. "Kamu juga masih disini?"
"Iya... tidak juga. Aku pulang setelah ini. Perhatikan kesehatanmu. Hiroto akan kesulitan tanpa bantuanmu," kata Reina.
Hiroto akan kesulitan tanpa bantuanku? Huuh, sebenarnya tanpa bantuanku pun dia bisa.
Memasuki ruangan, Hiroto tertidur di meja kerjanya. Aku menghampirinya. Aku melihat ke monitor laptop yang dia bawa. Ya... Aku sadar kalau ternyata sepertinya dia memang butuh bantuanku.
"Hiroto," aku mengguncang tubuhnya. Dan, dia tidak merespon sama sekali.
Dia memang sudah sering tertidur seperti ini. Aku mematikan laptopnya.
Malam ini, aku terpaksa tetap tinggal di kantor untuk mengerjakan tugas. Dan malam ini pula, lagi lagi aku harus meminjamkan jaketku untuk menyelimuti Hiroto.
Kadang terlintas di pikiranku, kenapa aku yang dipilih menjadi sekretaris? Padahal masih ada Nagumo, Suzuno, atau Reina. Hal itu terus terngiang di pikiranku selama mengerjakan tugas.
Sesuai harapanku, tugas itu selesai di malam itu. Pukul 2, tugasku selesai. Yang ada di pikiranku hanyalah istirahat.
Tapi melihat Hiroto yang sendirian disini, rasanya aku jadi tak ingin pulang. Kuputuskan malam itu aku bermalam di kantor.
Selamat malam.
PART 2
(Hiroto's POV)
"Hiroto, Hiroto."
Aku terbangun. Kulihat wajahnya, dan dia tersenyum. "Kau masih mengantuk?"
"Ya..." Aku berusaha membuka mataku lebih lebar. "Kamu disini semalam?"
Ia mengangguk. "Iya.lihat? Kau tertidur lagi disini. Kamu yakin tidak perlu istirahat di rumah? Bisa bisa kantor ini jadi rumahmu sendiri."
"Haha," aku tertawa kecil. "Tugasmu?"
"Sudah selesai. Tapi aku tidak akan menyerahkannya padamu."
Aku menatapnya. "Kenapa?"
Dia tersenyum dan berkata,"Kau tahu? Kamu terlalu banyak berada di depan komputer. Kau terlalu lelah. Aku tidak mau membebani mu untuk sementara ini. Mau ke kafe?"
Aku duduk berhadapan dengannya.
"Aku mau kamu istirahat di rumah kali ini."
Aku terkejut. "Apa?"
"Iya, istirahat di rumah," katanya. "Aku urus pekerjaanmu. Kamu harus di rumah hari ini."
Aku hanya menatapnya diam. Dan, dia memandangku dengan serius.
"Kamu terlalu baik, Ryuuji. Aku tetap masuk hari ini."
"Enggak. Aku serius. Dan kamu harus tetap di rumah."
Aku memandang keluar jendela.
Hari ini tampak cerah.
Ya.... seandainya dia tahu. Alasanku tidak ingin istirahat hari ini karena aku....
Aku tidak mau jauh jauh darinya.
"Oh, Hiroto."
Aku tersenyum. "Kakak baik baik saja?"
"Tentu. Aku sehat. Bagaimana keadaanmu?"
"Yah..." Aku melepas kacamataku. "Entahlah..."
"Apa yang kau bicarakan? Kamu kelelahan kan? Kenapa kamu memaksakan diri kesini?"
"Kakak tahu kalau aku tidak betah di rumah seharian."
"Iya, Kakak tahu. Tapi bukan berarti kamu harus jauh jauh kesini!"
Suasana Sun Garden masih tetap ramai hingga jam tidur siang tiba.
"Ne, Hiroto..." Kakak duduk di sebelahku. "Midorikawa menjagamu kan?"
"Eh?" Aku tersentak. "Ryuuji?"
Kakak mengangguk. "Aku tahu kamu terlalu sibuk sampai lupa kesehatanmu. Dia menelfonku kemarin. Katanya kau tertidur di kantor lagi kan?"
Angin berhembus memasuki jendela ruangan.
"Midorikawa memaksamu untuk istirahat karena dia peduli padamu, Hiroto. Dia tak ingin kamu terlalu lelah kemudian sakit. Dia sahabatmu. Kenapa kau tidak hargai dia yang rela mengerjakan semua tugasmu dengan menuruti kemauannya?"
Aku membaringkan tubuhku diatas kasur, memikirkan kata kata Kakak tadi. Ya, aku akui kalau Ryuuji memang peduli padaku. Aku sendiri juga senang karena dia peduli. Walau begitu, seharusnya dia tidak perlu menyelesaikan tugasku juga.
Seseorang mengetuk pintu rumahku.
"Hiroto?"
Dia.
Part 3
(Normal POV)
"Hiroto."
"Kenapa kau kemari?"
"Huh, kenapa lagi? Untuk tidak memastikan kau keluar dari rumah lagi, kan? Aku ditelepon Hitomiko- san. Kamu pergi ke Sun Garden."
"Ya.... Memang. Aku benar- benar tidak betah di rumah seharian!"
"Aku mengerti. Tapi kamu harus istirahat, Hiroto."
"Ya, ya..."
"Kamu mengerjakan tugasku?"
"Hm?" Midorikawa menoleh. "Tentu. Aku sudah berjanji kan?"
Kakak, kurasa kau benar.
Dia memang memperhatikanku dan mengkhawatirkanku lebih dari apa yang pernah aku pikirkan.
Aku mungkin memang... Tidak boleh mengecewakannya.
"Hiroto... Kamu demam. Kurasa kau harus lebih lama di rumah."
Tersadar dari lamunannya, Hiroto mendapati Midorikawa berdiri tepat di depannya. Ia tak dapat menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah.
"Ryuuji.... Bisa mundur... Sedikit?"
"Eh? Oh, iya. Maaf, maaf... Kamu terlihat pucat."
"Huuh..." Hiroto menghela nafas. "Kamu bilang apa tadi?"
"Kamu harus tetap di rumah sampai kau sembuh."
"Enggak enggak enggak. Aku besok harus masuk."
"Tidak. Aku mewajibkanmu tidak masuk besok."
Ryuuji.
PART 3
(Hiroto's POV)
"Ya..." aku membaringkan tubuh diatas kasur. "Sepertinya Ryuuji benar. Aku memang demam."
Tapi, kalau aku terus terusan di rumah seperti ini.... Tugasku dia kerjakan semua?
"Ryuuji!"
"Hiroto!? Kenapa kamu ke kantor!?"
"Kamu mengerjakan dua tugas sekaligus! Aku tidak akan membiarkan itu terjadi! Kamu juga akan kelelahan kan? Sudahlah, biar aku yang kerjakan!"
"Hiroto...?"
Yah.... Aku akui kepalaku memang pusing, dan badanku pun meriang. Tapi kalau Ryuuji juga mengerjakan tugasku, dia juga akan demam. Lalu yang mengerjakan tugas siapa?
"Hiroto...." ia menghampiriku. "Kau yakin tak apa?"
Aku mengangguk. "Tentu."
"Tapi.... sakitmu nanti tambah parah?"
"Ya... mungkin saja. Tapi aku lebih tidak mau kamu yang sakit. Lebih baik aku yang mengerjakan."
"Lebih tak mau... Aku yang sakit?"
"Iya. Bagaimanapun juga, kamu punya posisi penting disini."
"Ya, meski kau bilang begitu.... posisi mu disini lebih penting, Hiroto."
"Tapi aku tidak bisa mengerjakan tugas disini tanpamu."
"Bukan hanya aku kan?"
"Ya... Tapi rasanya aku... Lebih membutuhkan bantuanmu daripada yang lain."
Tugasku sudah selesai. Aku sudah di rumah. Aku hanya butuh istirahat. Mengesalkannya, saat aku sudah beristirahat, seseorang memasuki rumahku.
"HIROTO-SAN!!!"
Suara itu. Membuatku. Makin. Pusing.
"Kariya?"
"Aku diberitahu Hitomiko-san kalau Hiroto-san lagi sakit."
Kakak.
"Lalu? Sedang apa kau disini?" Tanyaku. Sumpah, kedatangan anak ini membuatku makin sakit.
"Hem.... Aku disuruh Midorikawa-san mengantarkan ini."
"Ryuuji?"
"Iya. Oh, sebentar lagi aku ada latihan. Aku pergi ya."
Dia pergi. Tunggu. Apa yang diberikan Ryuuji?
"Sudah kuduga."
Terlalu mengkhawatirkan.
"Ryuuji?"
"Oh, Hiroto. Kau sudah minum obat yang diberikan Kariya kan?"
"Ya. Sudah. Ryuuji, kurasa kau terlalu memikirkanku. Jangan khawatirkan aku. Khawatirkan dirimu sendiri. Aku tak mau keadaanmu sepertiku."
"Huuh... Apa salahnya aku mengkhawatirkan mu? Kalau aku sakit juga kamu memperhatikanku kan? Lagipula kamu...."
"Apa?"
"Bukan apa apa. Sudah, ya. Istirahatlah."
Apa? Dia bilang apa?
Entahlah.
Aku harus istirahat.
PART 4
(Hiroto's POV)
Selang beberapa hari, keadaanku berangsur membaik. Hari ini aku mulai aktif di kantor kembali.
"HIROTO!!!"
"R-Ryuuji!?"
Memasuki ruangan, tiba- tiba ia memelukku.
"Apa ini!?"
"Kamu lama banget, sih, enggak masuknya?"
"Yah, jangan salahkan aku. Dan juga..."
"Apa?"
"Kenapa kau langsung memelukku tadi?"
Pipinya tampak bersemu merah. "Maaf, tampaknya tadi gaya gravitasi berpusat padamu."
"Haha," tawaku. "Oh, Ryuuji. Aku berterima kasih padamu. Obat yang kamu berikan sangat membantuku."
"Iie, nandemonai wa. Tugasmu sudah menunggu."
"Hei, Ryuuji..."
"Ya?"
"Kenapa kau begitu memperhatikanku?"
"Hem... Kenapa ya? Karena aku sahabatmu kan?"
"Hanya itu?"
"Hm.... Mungkin... karena aku.... menyukaimu?"
Hari itu terasa lebih sejuk dari biasanya.
.........................o0o......................
Selesai? Enggak tau juga. Udah enggak ada ide lagi. Kalau ada usul, req, kritik saran, dan kawan kawan :v bisa tulis di kolom komentar atau kirim ke alieagran@gmail.com