Yozora ni matataku hoshi-tachi, tsuyoku hakanaku
kagayaki
.
.
“Ne, Hiroto….”
“Nani?”
“Malam ini terang, ya…”
“Hmm?”
“Maksudku, bulan dan bintang
terlihat sangat jelas…”
“Oh… Ya, kau benar.”
“Sudah lama aku tidak
melihat bintang.”
“Huh?”
“Seandainya saja ada bintang
jatuh … Apa yang akan kuminta, ya?”
.
.
Taisetsuna egao no tame ni
.
.
“…. Apa yang kau minta?”
“Eh?”
“Malam ini aku akan menjadi
bintang jatuhmu.”
“Eeeh?”
“Untuk malam ini.”
“Arigatou!”
.
.
Kibou wo egaku ryuusei ni nare
.
.
.
.
“Hiroto…. Aku ingin tahu apa
kau sudah menyelesaikan tugasmu?”
“Tentu. Ada apa?”
“Haah…. Kau rajin seperti
biasanya, ya…”
“Terima kasih.”
“Bisa bantu aku?”
“Kemarilah.”
“Kau juga baik seperti
biasanya.”
“Terima kasih lagi.”
“Tinggal tiga bulan sebelum
kelulusan, ya…” gumam lelaki bertampang cewek itu.
“Tidak terasa, ya,” lawan
bicaranya bertopang dagu sambil menatap jendela kamar.
“Kenapa waktu berlalu begitu
cepat, ya?”
“Bukankah dari dulu memang
sudah seperti itu?”
“Heh? Masa’?”
“Mungkin kau saja yang tidak
memanfaatkan waktu dengan baik.”
“Eh? Apa?”
“Bercanda.”
“Hiroto….”
Sudah berapa tahun mereka
bersama? Sudah belasan tahun mereka lewati bersama. Sejak mereka berumur 4
tahun, hingga sekarang mereka sudah berumur 17 tahun. Panti asuhan yang sama, sekolah dasar yang sama, SMP yang sama, dan SMA yang sama. Selalu bersama.
"Kau akan kemana setelah itu?" tanya Hiroto.
"Mungkin ke Kyoto... bagaimana denganmu?"
"Tokyo."
"Hee... setelah bertahun-tahun bersama, akhirnya kita berpisah..."
"'Akhirnya'?"
"Ya- Eh, maaf... kata kataku salah ya?"
"Ya, itu salah. Kau tidak seperti biasanya."
"Maaf!"
"Nandemo."
.
.
.
.
Setelah 13 tahun terus bersama...
Waktu akan memisahkan mereka.
"Hiroto..." salah satu teman dekatnya, Suzuno Fuusuke, berbisik padanya. "Kapan kau akan sadar?"
"Maaf, tapi daritadi aku sudah sadar."
"Jangan berpura pura polos begitu! Kau mengerti apa yang kumaksud, kan?"
"Aku benar-benar tidak mengerti."
"Baiklah. Akan kujelaskan..."
"Silakan."
"Jadi-"
"HIROTO!!!"
"Eh?" Suara itu membuat kedua murid teladan ini membalikkan badan. Yang memanggil berlari kearah mereka.
"Apa yang kalian bicarakan?"
"Entahlah."
"Jawaban macam apa itu? Haah, sudahlah. Ayo pulang," ucap Midorikawa.
Suzuno hanya melirik Hiroto sesaat, kemudian mengalihkan pandangannya.
"Dasar," pikirnya.
"Apa yang mau ia katakan tadi?" Di rumah, ia membaringkan tubuhnya diatas kasur.
Ia sudah memiliki pendapat kalau yang akan Suzuno katakan menyangkut Midorikawa.
Handphone yang ia letakkan diatas meja bergetar. Sebuah pesan masuk.
"Ini tentang Midorikawa. Dia menyukai mu."
Ekspresinya berubah ketika membaca pesan itu. Perasaannya campur aduk.
Kali ini, berderinglah handphone milik Midorikawa yang sedang berada di taman.
"Moshi moshi?"
"Ryuuji..."
"Eh? Hiroto?"
"Ano sa-"
"Hei, coba lihat langitnya."
"Eh?"
"Cantik sekali."
Hiroto terdiam sesaat ketika menatap bintang-bintang di malam itu.
"...... Ya... Kau juga sama, bukan?"
"Apa maksudmu?"
"Kau selalu terlihat cantik untukku."
"Hiroto.... sudah berapa kali kukatakan padamu kalau aku ini laki laki?"
"Biar kamu laki laki, kau tetap cantik."
"Hiroto!!!"
Biarlah ia menyukaiku. Aku sendiri juga menyukainya. Tidak masalah, bukan? Hiroto tersenyum kecil.
"Dimana kau sekarang?" Tanya Hiroto. Ia berdiri lalu mengambil jaketnya.
"Eh? Di taman. Ada apa?"
"Tidak, tidak ada apa apa. Jaa ne."
"E-eh? Hiroto?"
"Nah, sekarang dimana kau, Ryuuji?" Hiroto terengah engah sambil mengamati taman. Sepasang bola matanya terhenti ketika melihat seseorang berdiri di samping sebuah pohon. "Ryuuji?" Ia berlari mendekati sosok itu.
"Eh? Ryuuji? Ada apa?"
Lelaki berambut hijau itu menengadah melihat langit. Matanya mengeluarkan air mata.
"Ryuu?"
.
.
.
.
.
"Dimana orang tuaku?"
.
.
.
.
Hatinya berdegup kencang mendengar pertanyaan itu. Suara Midorikawa jelas sekali berbeda dari ketika ia meneleponnya. "Ryuuji..."
"Pertanyaan bodoh, ya?" Midorikawa tersenyum. "Kenapa aku berkata seperti itu tadi?"
Hiroto masih memasang wajah terkejutnya.
"Tidak, tidak apa-apa. Aku juga bertanya-tanya dimana orang tua kandungku."
"Kau masih ingat apa yang Kakak katakan?" Hiroto menyandarkan punggungnya di pohon. Midorikawa menoleh. "Tidak."
Orang tua kalian sekarang berada di surga. Kalau kalian melihat bintang-bintang di langit malam, berarti orang tua kalian salah satu diantara semua bintang itu.
"Ingat?"
Midorikawa duduk diatas rerumputan. "Ya...."
“Seandainya saja ada bintang jatuh … Apa yang akan kuminta, ya?”
"Kau akan kemana setelah itu?" tanya Hiroto.
"Mungkin ke Kyoto... bagaimana denganmu?"
"Tokyo."
"Hee... setelah bertahun-tahun bersama, akhirnya kita berpisah..."
"'Akhirnya'?"
"Ya- Eh, maaf... kata kataku salah ya?"
"Ya, itu salah. Kau tidak seperti biasanya."
"Maaf!"
"Nandemo."
.
.
.
.
Setelah 13 tahun terus bersama...
Waktu akan memisahkan mereka.
"Hiroto..." salah satu teman dekatnya, Suzuno Fuusuke, berbisik padanya. "Kapan kau akan sadar?"
"Maaf, tapi daritadi aku sudah sadar."
"Jangan berpura pura polos begitu! Kau mengerti apa yang kumaksud, kan?"
"Aku benar-benar tidak mengerti."
"Baiklah. Akan kujelaskan..."
"Silakan."
"Jadi-"
"HIROTO!!!"
"Eh?" Suara itu membuat kedua murid teladan ini membalikkan badan. Yang memanggil berlari kearah mereka.
"Apa yang kalian bicarakan?"
"Entahlah."
"Jawaban macam apa itu? Haah, sudahlah. Ayo pulang," ucap Midorikawa.
Suzuno hanya melirik Hiroto sesaat, kemudian mengalihkan pandangannya.
"Dasar," pikirnya.
"Apa yang mau ia katakan tadi?" Di rumah, ia membaringkan tubuhnya diatas kasur.
Ia sudah memiliki pendapat kalau yang akan Suzuno katakan menyangkut Midorikawa.
Handphone yang ia letakkan diatas meja bergetar. Sebuah pesan masuk.
"Ini tentang Midorikawa. Dia menyukai mu."
Ekspresinya berubah ketika membaca pesan itu. Perasaannya campur aduk.
Kali ini, berderinglah handphone milik Midorikawa yang sedang berada di taman.
"Moshi moshi?"
"Ryuuji..."
"Eh? Hiroto?"
"Ano sa-"
"Hei, coba lihat langitnya."
"Eh?"
"Cantik sekali."
Hiroto terdiam sesaat ketika menatap bintang-bintang di malam itu.
"...... Ya... Kau juga sama, bukan?"
"Apa maksudmu?"
"Kau selalu terlihat cantik untukku."
"Hiroto.... sudah berapa kali kukatakan padamu kalau aku ini laki laki?"
"Biar kamu laki laki, kau tetap cantik."
"Hiroto!!!"
Biarlah ia menyukaiku. Aku sendiri juga menyukainya. Tidak masalah, bukan? Hiroto tersenyum kecil.
"Dimana kau sekarang?" Tanya Hiroto. Ia berdiri lalu mengambil jaketnya.
"Eh? Di taman. Ada apa?"
"Tidak, tidak ada apa apa. Jaa ne."
"E-eh? Hiroto?"
"Nah, sekarang dimana kau, Ryuuji?" Hiroto terengah engah sambil mengamati taman. Sepasang bola matanya terhenti ketika melihat seseorang berdiri di samping sebuah pohon. "Ryuuji?" Ia berlari mendekati sosok itu.
"Eh? Ryuuji? Ada apa?"
Lelaki berambut hijau itu menengadah melihat langit. Matanya mengeluarkan air mata.
"Ryuu?"
.
.
.
.
.
"Dimana orang tuaku?"
.
.
.
.
Hatinya berdegup kencang mendengar pertanyaan itu. Suara Midorikawa jelas sekali berbeda dari ketika ia meneleponnya. "Ryuuji..."
"Pertanyaan bodoh, ya?" Midorikawa tersenyum. "Kenapa aku berkata seperti itu tadi?"
Hiroto masih memasang wajah terkejutnya.
"Tidak, tidak apa-apa. Aku juga bertanya-tanya dimana orang tua kandungku."
"Kau masih ingat apa yang Kakak katakan?" Hiroto menyandarkan punggungnya di pohon. Midorikawa menoleh. "Tidak."
Orang tua kalian sekarang berada di surga. Kalau kalian melihat bintang-bintang di langit malam, berarti orang tua kalian salah satu diantara semua bintang itu.
"Ingat?"
Midorikawa duduk diatas rerumputan. "Ya...."
“Seandainya saja ada bintang jatuh … Apa yang akan kuminta, ya?”
“…. Apa yang kau minta?”
“Eh?”
“Malam ini aku akan menjadi bintang jatuhmu.”
“Eeeh?”
“Untuk malam ini.”
“Arigatou....”
"Boleh aku.... memelukmu?"
.
.
.
.
.
.
Wajahnya memerah saat mengatakan itu.
"Shikatanai...." ucap Hiroto. Ia menarik lengan Midorikawa. "Tentu."
"Tapi-"
"Doushita? Kau mau aku yang memelukmu?"
"Eh-"
Belum sempat Midorikawa menjawab, tubuhnya sudah berada di dalam pelukan Hiroto. "Hi-Hiroto?"
"Hmm?"
"Te-Terima kasih...."
Tiga bulan sudah berlalu sejak peristiwa malam itu
"Kapan kau akan berangkat?" tanya Midorikawa. Wajahnya tampak sangat lesu.
"Dua hari lagi..." jawab Hiroto.
"Sayounara, ne, Hiroto," kata Midorikawa pelan.
"Tenang, aku akan kembali padamu secepatnya."
"Ya...."
"Ryuuji..."
"Ada apa?"
"Boleh aku menciummu kali ini?"
.
.
.
.
Tujuh tahun berlalu
(Midorikawa's POV)
"Ah, akhirnya aku menemukan nomermu, Midorikawa-kun..."
"Eh? Ini Hitomiko-neesan?"
"Hai. Ada seseorang yang mencarimu...."
"Mencariku? Siapa?"
"Nanti juga kau akan tahu sendiri. Datanglah ke Sun Garden."
Itu adalah saat-saat dimana aku akan bertemu dengannya lagi setelah bertahun-tahun kulewati tanpanya.
"Yo."
"......"
"Hiroto!" sepertinya itu reflek, ya... Tiba-tiba aku memeluknya. Ia membalas pelukanku.
"Midorikawa-kun, Hiroto memintamu untuk jadi sekretarisnya," jelas Kakak.
"Eh? Sekretaris?"
"Kau belum tahu? Hiroto sekarang adalah Presiden Kira Group," kata Kakak lagi.
"Ya. Kau akan menerimanya, bukan?" ucap Hiroto. Senyumnya masih terlihat hangat.
"Tentu...."
"Oh, tunggu, sekarang jam tidur anak-anak... Kakak tinggal dulu, ya?" Kakak meninggalkanku dan Hiroto di ruang tamu.
"......" suasana sempat sunyi untuk beberapa saat. Sampai Hiroto menanyakan sesuatu padaku.
"Apa kau menyukaiku?"
Heh? Apa? Kenapa ia menanyakan itu? Kenapa sekarang?
Aku tahu wajahku memerah sekarang. Aku hanya menatap ke bawah, terlalu malu untuk menatapnya, dan terlalu malu untuk menjawab.
"Me-memangnya kau menyukaiku?" Aku balas bertanya.
"Tidak."
Uuh, entah kenapa jawaban itu seperti sangat menusuk. Tidak seperti yang kuharapkan. Rasanya jantungku remuk arah bagaimanalah. Sakit.
"Aku tidak menyukaimu."
Hentikan! Sekarang kepalaku juga pusing! Tidak adakah kata kata yang lain? Yang lebih baik dari itu? Benar benar tidak seperti yang kuharapkan!
"Tapi...."
Jangan bilang kalau yang ini lebih buruk daripada yang tadi. Hiroto.... Kau membuatku kecewa...
"Aku tidak menyukaimu. Aku mencintaimu, Ryuuji."
"Eh?"
"Aku mencintaimu."
"Te-terima kasih... Hiroto...."
.
.
. (Skip)
.
.
(Normal POV)
"Aku ingin tahu yang mana orang tuaku..." gumam Midorikawa sambil menatap langit malam itu.
"Mungkin yang itu?" Hiroto menunjuk salah satu bintang.
"Ah- Aku bahkan tidak tahu kau menunjuk bintang yang mana, Hiroto..." ucap Midorikawa.
Tangannya menggenggam erat tangan Hiroto.
::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
WEEDEEH AKHIRNYA MIHARU-HIME APDET JUUGAAA!!! SATU LAGI KIYAMIDO :v PENDEK SEPERTI BIASA, GAJE LAGI!! HORAY!! SEKALI SEKALI LEAVE COMMENT GITU KEK? (Ngarep) Udahan dulu yaa!!!!
"Boleh aku.... memelukmu?"
.
.
.
.
.
.
Wajahnya memerah saat mengatakan itu.
"Shikatanai...." ucap Hiroto. Ia menarik lengan Midorikawa. "Tentu."
"Tapi-"
"Doushita? Kau mau aku yang memelukmu?"
"Eh-"
Belum sempat Midorikawa menjawab, tubuhnya sudah berada di dalam pelukan Hiroto. "Hi-Hiroto?"
"Hmm?"
"Te-Terima kasih...."
Tiga bulan sudah berlalu sejak peristiwa malam itu
"Kapan kau akan berangkat?" tanya Midorikawa. Wajahnya tampak sangat lesu.
"Dua hari lagi..." jawab Hiroto.
"Sayounara, ne, Hiroto," kata Midorikawa pelan.
"Tenang, aku akan kembali padamu secepatnya."
"Ya...."
"Ryuuji..."
"Ada apa?"
"Boleh aku menciummu kali ini?"
.
.
.
.
Tujuh tahun berlalu
(Midorikawa's POV)
"Ah, akhirnya aku menemukan nomermu, Midorikawa-kun..."
"Eh? Ini Hitomiko-neesan?"
"Hai. Ada seseorang yang mencarimu...."
"Mencariku? Siapa?"
"Nanti juga kau akan tahu sendiri. Datanglah ke Sun Garden."
Itu adalah saat-saat dimana aku akan bertemu dengannya lagi setelah bertahun-tahun kulewati tanpanya.
"Yo."
"......"
"Hiroto!" sepertinya itu reflek, ya... Tiba-tiba aku memeluknya. Ia membalas pelukanku.
"Midorikawa-kun, Hiroto memintamu untuk jadi sekretarisnya," jelas Kakak.
"Eh? Sekretaris?"
"Kau belum tahu? Hiroto sekarang adalah Presiden Kira Group," kata Kakak lagi.
"Ya. Kau akan menerimanya, bukan?" ucap Hiroto. Senyumnya masih terlihat hangat.
"Tentu...."
"Oh, tunggu, sekarang jam tidur anak-anak... Kakak tinggal dulu, ya?" Kakak meninggalkanku dan Hiroto di ruang tamu.
"......" suasana sempat sunyi untuk beberapa saat. Sampai Hiroto menanyakan sesuatu padaku.
"Apa kau menyukaiku?"
Heh? Apa? Kenapa ia menanyakan itu? Kenapa sekarang?
Aku tahu wajahku memerah sekarang. Aku hanya menatap ke bawah, terlalu malu untuk menatapnya, dan terlalu malu untuk menjawab.
"Me-memangnya kau menyukaiku?" Aku balas bertanya.
"Tidak."
Uuh, entah kenapa jawaban itu seperti sangat menusuk. Tidak seperti yang kuharapkan. Rasanya jantungku remuk arah bagaimanalah. Sakit.
"Aku tidak menyukaimu."
Hentikan! Sekarang kepalaku juga pusing! Tidak adakah kata kata yang lain? Yang lebih baik dari itu? Benar benar tidak seperti yang kuharapkan!
"Tapi...."
Jangan bilang kalau yang ini lebih buruk daripada yang tadi. Hiroto.... Kau membuatku kecewa...
"Aku tidak menyukaimu. Aku mencintaimu, Ryuuji."
"Eh?"
"Aku mencintaimu."
"Te-terima kasih... Hiroto...."
.
.
. (Skip)
.
.
(Normal POV)
"Aku ingin tahu yang mana orang tuaku..." gumam Midorikawa sambil menatap langit malam itu.
"Mungkin yang itu?" Hiroto menunjuk salah satu bintang.
"Ah- Aku bahkan tidak tahu kau menunjuk bintang yang mana, Hiroto..." ucap Midorikawa.
Tangannya menggenggam erat tangan Hiroto.
::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
WEEDEEH AKHIRNYA MIHARU-HIME APDET JUUGAAA!!! SATU LAGI KIYAMIDO :v PENDEK SEPERTI BIASA, GAJE LAGI!! HORAY!! SEKALI SEKALI LEAVE COMMENT GITU KEK? (Ngarep) Udahan dulu yaa!!!!
No comments:
Post a Comment