Translate
Saturday, 28 March 2015
Inazuma Eleven x Corpse Party
Miharu-hime is back..../kagak ada semangat/ Lagi males nulis fanfic.... Tapi lagi gak ada kerjaan... /darimananya padahal lagi UTS/ Biasa, dibalik buku ada Hape_- Miharu-hime nulis fanfic ini... karena... lagi bosen_- Ya udah lah langsung aja ke fanfic nya!
_____________________________
Note: GAJE SEPERTI BIASANYA, BANYAK TYPO, MEMBACA FANFIC INI DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SESAK NAPAS, DEPRESI, GANGGUAN JANTUNG, HILANG INGATAN, BUNUH DIRI, DAN KEMATIAN. GAK SUKA DARI AWALNYA GAK USAH BACA. GAK KOMENTAR JUGA GAK APA.
-Oh iya, chara dari InaIre sama yang GO dijadiin satu, semua umurnya sama, masih SMP.
-Corpse Party World. Cerita sama, cuma tokoh yang beda
-Kisaragi Gakuen di Corpse Party diganti jadi Raimon
Chara di fanfic ini:
1. Kino Aki
2. Seto Midori
3. Yamana Akane
4. Gouenji Shuuya
5. Ichinose Kazuya
6. Otonashi Haruna(khusus Haruna versi yg GO)
7. Nagumo Haruya
8. Adeknya Gouenji. Sapa namanya? Yuka. Namanya sama kek adek yang di Corpse Party. Kebetulan banget
9. Sorano Aoi
10. Hantu hantu di Heavenly Host-Corpse Party
10. Dll.
Saa, story o hajimemashou!
-------------------------------
#1
"Hee... Cerita hantu setelah festival budaya, ya?" Gumam Akane.
"Ya..." kata Aki. "Ini juga perpisahan dengan Aoi-chan, kan?"
"Oh, iya..." sahut Midori. "Aoi pindah ya, besok..."
"Tapi ku rasa tidak ada orang yang menceritakan kisah horor sebelum perpisahan," Ichinose mematikan lilin yang tadi menyala saat Aki menceritakan kisah horor Raimon Chuugakkou.
"Tidak apa-apa!" Seru Aoi. "Setidaknya, cerita itu akan melekat di kepalaku sebagai kenangan saat kita bersama."
"Yah, hanya untuk kenang-kenangan, aku akan mengambil fotomu," Nagumo memotret wajah Aoi menggunakan kamera handphone nya.
"Ara, arigatou..." ucap Aoi.
"Sedang apa?" Haruna memasuki ruangan kelas tempat Aki dan kawan kawan bercerita. "Sudah jam segini kalian belum pulang?"
"Maaf, Sensei..."
"Eh? Yuka!" Gouenji melihat adiknya muncul dari balik pintu menggenggam sebuah payung. "Sedang apa kau disini?"
"Huuh, tentu saja aku datang untuk mengantarkan payung ini! Sebentar lagi hujan, kak!" Kata Yuka sambil menyerahkan payung yang dibawanya dari rumah.
"Terima kasih," Gouenji menerima payung itu dan mengelus kepala adiknya.
"Hee... Gouenji-kun tidak pernah bercerita kalau punya adik..." Midori mendekati Yuka. "Salam kenal!"
"Nah... untuk penutupnya, aku mau kita melakukan ritual jimat!" Aki mengeluarkan sebuah kertas berbentuk orang orangan dari tasnya.
"Ritual jimat?" Semua orang memandangi kertas itu bingung.
"Aku mencari tahu tentang ritual ini dari sebuah blog di internet... katanya, kalau kita melakukan ritual ini, maka kita akan menjadi sahabat selamanya!" Jelas Aki.
"Hoo..."
"Aku membeli jimat ini di tokob*gus.com sih(di anime nya emang gitu)... Tapi, ayo kita coba?" Tambahnya.
"Baiklah... Aku akan ikut sebagai pengawas," kata Haruna.
"Jadi, aku akan bacakan peraturannya. Masing masing dari kita memegang pucuk dari jimat ini. Lalu, kita ucapkan dalam hati, 'Author lupa mantra nya' sebanyak jumlah orang yang mengikuti ritual ini sambil memejamkan mata, lalu tarik jimat itu bersamaan. Oke?" Ucap Aki.
"Berarti, kita ucapkan 'Author lupa mantra nya' sebanyak... 9 kali, ya?" Kata Aoi memastikan. Aki mengangguk.
"Semua sudah pegang?" Tanya Aki. "Yosh, kita mulai!"
Semua memejamkan mata, yakin kalau hitungannya sudah benar. Lalu menarik kertas jimat itu bersamaan.
"Hee... kalau sudah begini, kita menjadi sahabat selamanya?" Tanya Akane.
"Ya!" Seru Aki. Mereka semua tersenyum. "Sekarang, kalian harus menjaga jimat itu baik baik!"
Kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Sesaat kemudian, lantai ruang kelas yang mereka tempati hancur, mereka memasuki portal ke dunia lain.
(Yo, Miharu-hime bacain kelompoknya, ya! :
1. Aki & Ichinose
2. Midori & Akane
4. Gouenji & Yuka
5. Nagumo, Haruna, sama Aoi sendiri sendiri.
(Lanjut ke ceritanya!)
"D-dimana... Ini..." Midori membuka matanya perlahan, melihat ke sekitar. Ia menemukan Akane tertidur di sebelahnya.
"Akane? Akane! Bangunlah!" Midori mengguncang tubuh Akane. Akane pun terbangun.
"Eh? Dimana ini?"
"Aku tidak tahu.... lebih baik sekarang kita cari jalan keluar dari sini!" Kata Midori.
Ia dan Akane berjalan menyusuri lorong, mencari pintu keluar.
"Uuh... tempat ini suram sekali..." Akane memeluk erat tangan Midori.
"Tidak ada lampu yang menyala..."
"Aneh.. kenapa tidak ada pintu keluar, sih?" Gerutu Midori. "Kita pecahkan jendelanya saja ya?"
"Baiklah..." jawab Akane.
Midori mengambil ancang ancang untuk meninju jendela di sebelahnya.
"Haaat! Aw!" Ia memegangi tangannya yang kesakitan. "Kacanya tidak mau pecah... Apa itu bisa dibuka, Akane?"
"Uh... Tidak bisa!" Akane mendorong jendela yang tertutup. "Tidak ada jalan keluar dari sini..."
"Hei, jangan berkata seperti itu! Pasti ada jalan keluarnya!" Elak Midori. "Ayo kita terus berjalan."
Sementara itu, di tempat Gouenji dan Yuka.
"Onii-chan... Aku takut..." Yuka memeluk kakaknya yang sedang membaca selembar kertas di tangannya.
"Ada tragedi disini..." kata Gouenji dalam hati. "Pembantaian besar besaran anak anak Sekolah Dasar ini, oleh seseorang yang tidak dikenal. Seorang anak selamat dari pembantaian ini." Lanjutnya, masih dalam hati. Ia takut malah membuat adiknya makin ketakutan.
Kelas yang mereka lihat sekarang suram. Lampu yang tergantung di atas berkedip kedip. Ada tetesan darah dimana mana.
"Saa, kita cari jalan keluarnya, ya, Yuka?" Kata Gouenji. "Kita pasti akan keluar dari tempat ini."
".... Ya..." ucap Yuka ragu.
Kembali ke tempat Midori dan Akane.
"Kita beristirahat di UKS dulu saja," kata Midori. "Kalau kita terus berjalan, mungkin tidak akan ada akhirnya."
"Baiklah..."
Midori dan Akane berbaring di kasur UKS ditemani cahaya dari lilin.
"Sepertinya aku... pingin buang air kecil...." kata Akane pelan. "Temani, aku, dong, Midori-chan..."
"Haaah? Kamar mandi dekat dari sini. Kesanalah sendiri. Aku akan menunggu disini," tolak Midori.
Akane sebenarnya tidak setuju dengan jawaban Midori. Sungguh berbahaya sendirian di tempat gelap dan horor seperti ini. Tapi ia tetap pergi ke kamar mandi sendiri.
"Baiklah, aku akan pergi sendiri. Tunggulah disini, ya Midori-chan... jangan tinggal aku..."
"Oke. Oke."
Midori berusaha tertidur di kasur itu. Namun pikirannya sungguh kacau. Ia berpikir keras cara untuk keluar dari tempat yang tidak ia kenal sama sekali ini. Ditambah lagi, ia terpencar dari teman temannya yang lain.
"Ah, Akane!" Ia khawatir dengan Akane. Ia berlari ke ujung lorong, tempat kamar mandi berada.
Midori memasuki kamar mandi perlahan, sambil memanggil nama Akane.
"Akane? Dimana kamu, Akane?!"
Pintu kamar mandi kedua terbuka.
Mata Midori melebar melihat Akane.
Akane.
Yang.
Sudah.
Mati.
Akane tergantung di langit langit kamar mandi. Mulutnya terbuka. Pupil matanya mengecil.
Midori tahu, yang harus ia lakukan sekarang adalah menolong Akane. Ia harus menurunkan Akane dari atas sama.
Kemudian ia melihat sebuah ember di pojok kamar mandi. Midori ingin mengambilnya untuk dijadikan pijakan untuk mengangkat Akane.
"Hik!" Ia terkejut mendapati ember itu berisikan organ tubuh manusia. Ia membuang isinya dan menaruhnya di bawah Akane.
Namun.
Semua.
Sudah.
Terlambat.
Kaki Midori tiba tiba lemas. Rasa bersalah karena tidak mau menemani Akane menghantui dirinya.
"Seandainya... tadi aku menemani nya..." katanya dalam tangisan. Ia menatap wajah Akane. "Maaf, Akane.... Aku memang bodoh..." Ia terus menangisi kepergian Akane.
Di tempat Aki dan Ichinose
"TIDAK!!!" Jerit Aki. Ia frustasi tidak menemukan jalan keluar dari tempat ini. Terpencar dari teman temannya. Kini ia hanya bersama Ichinose.
"Kendalikan dirimu, Aki!!" Ichinose memegang tangan Aki.
"Kembalikan...."
"Eh?" Ichinose menoleh ke sumber suara.
Seorang anak laki laki beraura ungu menatap tajam Aki dan Ichinose.
"I-Ichinose-kun! Jangan tatap matanya!!"
"Ba-baik... Aku mengert-" sekejap, anak lelaki itu berada di depan Ichinose.
"Oneechan dan Oniichan... mana yang mau mati duluan?" Pisau di tangannya ia letakkan di leher Aki.
"Aki!" Teriak Ichinose.
"Hoo... berarti Oniichan dulu ya?" Ia mendekati Ichinose yang terduduk di lantai kayu.
"Tidak.... Eh?" Tiba tiba anak laki laki itu menghilang, disertai datangnya seorang perempuan berkacamata.
Bruk.
"Aki? Kau tidak apa apa? Aki?!"
"A-aku tidak apa apa..." Aki memegangi kepalanya. "Kemana anak kecil itu?"
"Entahlah... Dia menghilang.. Ah-perempuan itu juga."
"Perempuan siapa?"
"Entahlah. Tadi anak kecil itu menghilang ketika perempuan itu datang. Dia memakai kacamata, dan jepitan bintang di rambutnya..."
"Oh!" Seru Aki. "Aku tahu. Ayo, ikut aku."
"Ichinose-kun... Sepertinya aku mengetahui tempat ini...." ucap Aki. "Ini tempat yang diceritakan di blog itu."
"Tempat apa?" Tanya Ichinose
"Tempat pembantaian beberapa tahun yang lalu. SD Miharu-hime Lupa..."
"Aku tidak peduli," kata Ichinose. "Kenapa kita bisa berada disini dan bagaimana cara kita keluar lebih penting."
Mereka berdua memasuki perpustakaan. Seorang perempuan berkacamata menggunakan jepit bintang sedang membaca buku.
"Siapa kamu?" Tanya Ichinose.
"Tunggu, Ichinose-kun," kata Aki. "Aku mengenalnya. Kau si perempuan yang membuat blog itu, kan? Aku penggemar blog yang kau buat."
"Terima kasih," jawab perempuan itu.
"Bagaimana cara kami keluar dari sini?"
"Keluar dari sini?"
"Tolong beritahu caranya!"
".... kalau kau mau keluar dari sini, maka kau harus membuat pelaku pembataian ini mengaku terlebih dahulu."
"Mendapat pengakuan...si pembantai?"
"Ya. Setelah itu, kau bisa keluar dari sini." Setelah mengatakan itu,perempuan bintang menghilang.
"Tunggu! Cih, terlambat..." ucap Ichinose. "Jadi, bagaimana kita mendapat pengakuan kalau tidak mengetahui siapa pembantainya?"
"Di berita, disiarkan kalau pelakunya adalah seorang guru dari sini..." kata Aki. "Boneka apa ini?" Ia mengambil sebuah boneka di lantai.
"Lebih baik kau terus membawanya. Mungkin itu akan berguna," Ichinose membuka pintu perpustakaan. "Ayo kita berjalan lagi." Aki mengangguk.
"A-aku..."
"Eh?" Aki dan Ichinose terkejut mendengar suara itu. "Siapa yang berbicara?"
"Aku... mengaku-..."
"Apa? Bonekanya berbicara?"
"Aku yang melakukan pembantaian di sekolah ini... maafkan aku..."
"Eh?! Apa ini pengakuan dari pembantainya?" Aki terus memegang boneka itu."Kalau sudah begini, seharusnya kita dapat keluar dari sini!"
"Ya!" Jawab Ichinose. "Uwah!" Tembok di sebelahnya hancur. "A-apa ini..."
"Lidah?" Aki membuka satu kantung dari dalam tembok yang runtuh itu.
"Kembalikan..."
"A-Aki,laki laki itu muncul lagi..." kata Ichinose. "Apa yang harus kita lakukan?"
Tanpa banyak bicara, anak lelaki itu mendorong Ichinose ke tembok. Ichinose jatuh, sepertinya pingsan.
Aki di dorong dan jatuh ke lantai. Tangan anak kecil itu mencekik lehernya.
"Le-lepaskan..."
"Kembalikan...." laki laki itu terus mengucapkan kata kata itu.
Aki mendapat ide. "Lidahnya..." tangannya berusaha menggapai lidah dari kantung tadi. "Ku-kurang... sedikit..." ia berhasil mendapatkannya. "Ini!" Ia menunjukkan lidah itu kepada anak laki laki yang mencekiknya.
Seketika, anak itu menghilang. Aki segera membangunkan Ichinose.
"Ichinose-kun? Ichinose-kun!"
"Aki..." Ichinose membuka matanya. "Kemana anak tadi?"
"Dia sudah pergi dari sini... Berarti kita bisa kembali ke sekolah kita!"
Di tempat Haruna.
"Hah... dimana aku sekarang..." ucapnya gelisah. Kemudian ia melihat ruangan yang lampunya menyala. Dan mendengar suara salah seorang muridnya. "Aoi?"
Ia pun memasuki ruangan itu.
Benar saja Aoi sedang duduk di sebuah kursi dan mengobrol bersama dua hantu kecil.
Yang satu kehilangan sebelah matanya, yang satu lagi kehilangan setengah kepalanya.
Tentu saja Haruna terkejut melihat Aoi mengobrol dengan hantu. Aoi mengobrol dengan senang hati. Ia tersenyum senang.
"Tentu saja! Aku juga senang berada di sekolah!" Katanya. "Aku mendapat baaanyak teman di sekolah!" Kedua hantu itu juga senang mendengar cerita Aoi. Sampai Haruna memasuki ruangan dan mencegah Aoi untuk terus mengobrol.
"Aoi, hentikan!" Katanya.
"Ara, Haruna-sensei!" Ucap Aoi.
"Kumohon, hentikan... Aoi adalah muridku yang kusayangi... tolong lepaskan dia!"
"Eeh? Aku sedang mengobrol bersama mereka, sensei! Eh-"
Tampaknya hantu bantu itu marah dengan gangguan Haruna. Mereka mengangkat kaki Aoi. "Eh?!"
Kemudian.
Menyeret tubuh Aoi.
Dan melemparkannya begitu saja.
Ke tembok sekolah.
Badannya hancur. Haruna menutup mulutnya melihat Aoi, salah satu muridnya, badannya hancur.
"Aku... Tidak bisa melindungi murid muridku.."
Dari belakang, seseorang memukul kepalanya hingga ia terjatuh.
===============================
Yo. Miharu-hime kembali. Bingung sendiri kenapa tiba tiba dapet ide buat nulis ini. Lagian, kenapa ada Nagumo segala ya_- Oh, iya, tolong abaikan kata kata 'Author lupa mantranya' sama 'SD Miharu-hime Lupa' ya... (:v) ya udah, part 2 lanjut nanti ya. Miharu-hime demam. (GAK ADA YANG PEDULI!)
Miharu-hime kembali.... /gara gara nge dengerin adek teriak teriak demam jadi sembuh/ bukannya malah tambah sakit ya_-"/ enggak, Miharu-hime sembuh karena megang laptop :v/ Udah lah kagak usah banyak bacot, langsung ke cerita aja.
===============================
Di Heavenly Host, mereka yang sendirian tidak ada bisa bertemu yang lain.
Haruna tidak akan bertemu dengan Gouenji dan Yuka meski tempat mereka berada sama. Nagumo tidak akan melihat Aki dan Ichinose meski sebenarnya mereka bersebelahan. Tempat yang sama, dunia yang berbeda.
Di tempat Nagumo.
"Sialan..." ia tengah memotret badan manusia yang hancur di tembok. /tanpa ia sadari, yang dipotret nya adalah badan Aoi.../
Tiba tiba ada guncangan. Entah apa yang telah terjadi. Namun, Gouenji bersama Yuka kini dapat melihat Nagumo sedang memotret organ organ itu.
"Nagumo?" Gouenji masih memegang tangan adiknya. "Akhirnya kita bertemu juga."
"Oh, Gouenji... dan Yuka juga."
"Mungkin kita bisa bertemu dengan yang lain," kata Gouenji. "Baiklah. Bagaimana kalau seperti ini. Kita akan berpencar untuk mencari yang lain, lalu berkumpul kembali disini."
"Baiklah. Aku akan kesana," Nagumo menunjuk arah yang ditujunya. "Sampai jumpa lagi."
"Ya," sahut Gouenji.
Di tempat Nagumo.
"Sialan!" Gerutunya. "Kenapa tidak ada sinyal di tempat seperti ini, sih?! Aku juga tidak bisa melindungi Aoi... ku harap dia tetap selamat..."
Ia memandangi foto foto di handphone nya. Yang dia potret adalah mayat mayat yang terdapat di seluruh penjuru sekolah.
"Paling bagus yang ini...." Dia, tanpa sadar memotret bagian tubuh Aoi yang hancur.
"Eh? Ada telepon? Ku pikir tidak ada sinyal..." Ia mengangkat telepon dari nomer yang tidak dikenalnya. "Halo?"
Pertama, yang terdengar hanya suara yang sama sekali tidak jelas.
"Jangan..."
"Eh? Suara Aoi?"
"Jangan lihat... bagian.."
"Apa?"
"Jangan lihat bagian... tubuhku..."
Foto yang diambilnya tadi melayang layang di pikirannya. "Aoi..."
"AOI!!!"
Di tempat Gouenji.
"Apa kita belum menemukan yang lain, Oniichan?" Tanya Yuka. Sejak 10 menit yang lalu, ia terus menerus menanyakan hal itu. Gouenji tak kuasa menjawabnya. Ia beranikan hatinya.
"Kita akan bertemu mereka sebentar lagi," hanya itu yang bisa dikatakan Gouenji. Untuk sementara ini...
Tiba tiba, seorang anak kecil yang menggunakan pakaian berwarna merah muncul beberap meter di depan kakak adik itu.
"Sepertinya dia juga penunggu di tempat ini..." gumam Gouenji dalam hati.
"Lewat sini," kata anak kecil itu pelan.
"Eh?" Gouenji dan Yuka tersentak mendengar kata kata perempuan itu.
Sebenarnya butuh banyak waktu untuk mempertimbangkan ucapannya. Iya kalau dia baik. Kalau tidak?
"Kau mau ikut atau tidak?" Tanya Gouenji pada adiknya.
Yuka juga bingung. Untuk anak seumurnya, mengambil keputusan itu susah.
"... ah... eeto... Yuka mau ikut."
"Eh?" Jujur saja, Gouenji tidak percaya jawaban adiknya.
Sementara si gadis kecil masih bersabar melihat Gouenji berdiskusi bersama Yuka.
"Baiklah, kami ikut," ucap Gouenji. "Semoga Tuhan memberi kami keselamatan," katanya dalam hati.
Gadis kecil itu membawa Gouenji dan Yuka ke depan sebuah pintu.
"Eh? Kurasa sebelumnya tidak ada pintu ini..." gumam Gouenji sambil memperhatikan pintu itu.
"Ayo," si gadis kecil membuka pintu itu.
Gouenji, Yuka, dan gadis kecil sekarang berada di luar sekolah.
"Niichan..." panggil Yuka pelan. Kakinya bergetar.
"Ada apa?"
"Yuka... kebelet buang air kecil..."
"Eh? Tidak ada toilet disini... Ah, disitu tidak apa apa kan?" Gouenji menunjuk lahan di sebelah mereka. "Ada pagarnya, sih... Tapi kamu bisa melewatinya kan?"
Yuka mengangguk. "Ne, kau mau menemaniku, kan?" Tanya Yuka pada gadis kecil.
"Tentu saja, Neechan."
"Ja, aku akan menunggu di dalam. Kalau ada apa apa, panggil saja aku," Gouenji membuka pintu kembali.
Ketika Yuka menaiki pagar itu, ia melihat seorang perempuan bermata satu melihatinya dari jarak beberapa meter. Tentu saja, ia ketakutan. Yuka menoleh ke sekitarnya, mencari kakaknya dan si gadis kecil.
"E-eh? Kemana gadis itu?" Ketika menoleh kembali, perempuan bermata satu itu berada tepat di depan wajahnya. "Iie!!!" Jeritnya. Ia turun dari pagar itu dan berlari ke dalam sekolah.
"Eh? Oniichan!! Oniichan! Dimana kamu, Oniichan?!" Yuka tak dapat menemukan sosok kakaknya.
Alhasil, secara terpaksa, ia berjalan sendirian di lorong gelap Heavenly Host.
Telinganya mendengar suara.
Sesuatu yang memukul sesuatu juga.
Ia terpaku di depan kelas yang sebenarnya, ingin dia masuki.
"Nagumo-niichan..."
Nagumo yang terkejut akan kedatangan Yuka menoleh.
Tangannya.
Menggenggam.
Sebuah.
Pemukul.
Apa yang dilakukannya? Apa? Miharu-hime sekaligus Readers juga Yuka, bingung. Kenapa? Nagumo frustasi? Sebegitu frustasinya sampai ia mau...
...Memukul mayat?
"Ara, Yuka-chan."
Yuka hanya berdiri di tempatnya. Wajahnya cemas. Kenapa teman kakaknya ini memegang pemukul di tangannya? Kenapa di wajahnya ada darah? Dan... Kenapa dia memukul mayat? Mayat?
"Kau mungkin berpikir aku sudah gila, ya, memukul mayat seperti ini... Apa yang kau lakukan disini?"
"..... Ah. Itu... Oniichan tiba tiba menghilang..." Yuka tersadar dari lamunannya.
"Gouenji? Baiklah..." Nagumo berjalan mendekati Yuka.
Apa niatannya baik? Tapi kenapa wajahnya seperti itu? "Aku akan membantumu mencari... Kakakmu..."
"Eh- uh, tidak usah... Yuka akan mencarinya sendiri..."
"Hee, nani? Katamu kau akan mencarinya... maka aku akan membantu..."
Yuka sudah tidak tahan dengan tatapan itu. Ia berlari sekuat tenaga menjauhi Nagumo. Sampai ia menemukan tempat bersembunyi di bawah lantai kayu yang rusak.
"Yuka-chan... dimana kau?" Suara Nagumo sekarang tidak seperti yang dulu. Terdengar seperti... mau memangsa?
"Hmp..." Yuka menahan mulutnya agar tidak berteriak. Air mata sudah menetes. "Oniichan.. Aku takut..."
"Main sembunyi-sembunyian disini?"
Suara itu membuat Yuka reflek mendongakkan kepalanya. "Eh?"
Beruntung, lelaki itu bukan Nagumo yang... em... sudah berbeda.
Seorang lelaki berambut biru. (Miharu-hime ngaku deh, ini cowo emang ketjeh)
Lelaki itu mengulurkan tangannya untuk menolong Yuka bangkit dari tempatnya. Mereka pun berjalan melewati lorong.
"Jadi, kau mau mencari kakakmu?"
"Un..." Yuka mengangguk. "Kalau Kakak sedang apa disini?"
"Aku disini sebenarnya mau mencari adikku yang juga menghilang..."
"Ah, ketemu."
Suara itu membuat Yuka dan si Pemuda menoleh. Nagumo.
Sontak Yuka bersembunyi di belakang pemuda itu.
"Jadi kau tadi bersembunyi karena dia?" Yuka mengangguk.
"Tenang saja, aku akan melindungimu."
"Nani? Kau juga mau kujadikan wallpaper handphoneku, hah?"
Nagumo maju duluan menggunakan pemukulnya. Si Lelaki baru maju.
Membawa.
Pisau.
Mata Yuka membulat. "Pisau?"
Belum sempat Nagumo menyerang, lelaki baru sudah menusuk lehernya. Darah dimana mana.
Tentu saja Yuka makin merinding. Ia telah menyaksikan satu pembunuhan yang mengerikan.
Nagumo terjatuh. Ia mati.
"Baiklah..." Si Lelaki baru menyalakan handphone Nagumo. "Aku akan menjadikanmu wallpaper... handphonemu sendiri." Ia mengambil satu foto Nagumo dan menjadikannya wallpaper.
Yuka terdiam. Ia tahu, sekarang hanya satu yang harus dilakukannya.
LARI.
=============SUDZUKU==========
Di balik layar.
#1
Nagumo: "Kau mungkin berpikir aku sudah gila, ya, memukul mayat seperti ini-"
Yuka: "YA IYA LAH!!! NGAPAIN ORANG MUKUL MAYAT?! PLIS DEH MAYAT ITU UDAH MATI, NGAPAIN DIMATIIN LAGI?!"/Nagumo cengo/
Miharu-hime: "Chotto Yuka-chan itu tidak sesuai naskah!!!"
#2
???: "Main sembunyi-sembunyian di tempat seperti ini?"
Yuka: "ENGGAK, YUKA LAGI MAIN BENTENG-BENTENGAN!!!"/??? a.k.a kakak Sachiko si gadis kecil, cengo/
Miharu-hime: "salah lagi, Yuka-chan!!"
#3
Nagumo: /memotret tubuh yang hancur di tembok/ "Siala-"
Miharu-hime: "CHOTTO HARUYA-KUN!! Siapapun tolong Haruya-kun! Dia mau muntah!!!"
===========CATATAN===========
Sori banget, Miharu-hime jarang apdet_- Lagian emangnya ada yang baca?_-
Jadi tuh, Miharu-hime jarang lanjut gara-gara....
: Trauma liat Corpse Party lagi
Kan ini cerita based on Corpse Party beneran... Nah, karena udah banyak adegan yang lupa, Miharu-hime kudu ngeliat ulang... Terus gak berani_- Ya udah nanti kalo sempet aja ya_-
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment